Selasa, 08 Juli 2014


Perbandingan Efek Diuretika Serta Kadar Natrium Dan Kalium Darah Antara Pemberian Ekstrak Etanol Daun Tempuyung (Sonchus Arvensis Linn) Dengan Furosemida


Erlina Rustam Imelda FB dan Andani EP
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Diterima tanggal : 17 Juli 2006 disetujui : 05 September 2006

Abstract

A study on comparative diuretic effect and the sodium and  potassium blood levels between the administration the aethanolic extract of tempuyung leaves (Sonchus arvensis Linn) and furosemide on 7 groups of male Wistar rats has been done. Three groups were given various doses of the aethanolic extract of tempuyung leaves (100; 300 and 1000 mg/kgBW respectively), three other groups were given furosemide with the doses of 0.36; 0.72 and 1.14 mg/kgBW respectively and one control group. Results showed that tempuyung extract with doses of 300 mg/kgBW had highest diuretic effect (6.85 mL) in comparison to furosemide 0.72 mg/kg BW (6.575 mL) and control (5,075 mL). The lowest natrium and potassium blood levels of  7.21 and 4.58 ppm respectively were found after administration of 300 mg/kg BW extract compared to 7.60 and 4.29 ppm respectively after the administration of 0.72 mg/kgBW furosemide (these of control were 8.45 ppm and 5.01 ppm for sodium and potassium level respectively). In summary the extract of tempuyung leave at doses 300 mg/kgBW showed a stronger diuretic effect than furosemide at doses 0.72 mg/kgBW.
Keywords :  Sonchus Arvensi, diuretik
 




Pendahuluan

Indonesia memiliki keanekaragaman tanaman obat, dimana lebih dari 30.000 spesies tanaman dari sekitar 40.000 spesies di dunia, dan baru 800-1200 spesies di antaranya diketahui berkhasiat sebagai obat atau digunakan sebagai bahan obat. Menurut Depkes RI, definisi tanaman obat Indonesia sebagaimana tercantum dalam SK Menkes No. 149/ SK/ Menkes/ IV/ 1978, yaitu tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu; tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai formula bahan baku obat; atau tanaman atau bagian tanaman yang diekstraksikan, dan ekstraksi tersebut digunakan sebagai obat (Siswanto, 1997; Sutarjadi,1992).

Beberapa tanaman obat dapat digunakan sebagai obat diuretika diantaranya alang-alang, tempuyung, kumis kucing, keji beling, meniran, daun sendok dan lain-lain.dimana penelitian dan pengembangan tumbuhan obat yang berkhasiat diuretika ini merupakan salah satu prioritas Departemen Kesehatan Republik Indonesia didalam penggalian, pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan tumbuhan obat Indonesia (DepKes RI, 1977; DepKes RI, 1992; Hembing, 1992; Lukmanto, 1991; Van Steenis, 1981).

Dari sekian banyak tanaman obat yang berkhasiat sebagai diuretika tempuyung merupakan salah satu yang popular bahkan juga telah diolah dalam skala industri. Pada tahun 1980-an di daerah Cibinong, dijual teh cabining yang terbuat dari serbuk daun kering tempuyung sebagai hasil temuan tim yang dikoordinir oleh Soekarto,namun sampai sekarang belum juga tuntas sebagai obat fitofarmaka. .

Furosemida merupakan kelompok diuretika kuat yang telah teruji secara medis ilmiah. Sebagai diuretika kuat, furosemida merupakan obat yang paling sering digunakan di Indonesia, yaitu sekitar 60% dibandingkan dengan diuretika kuat yang lain. Hal ini terjadi karena mula kerja, waktu paruh dan waktu kerja relatif singkat, sehingga efek diuretikanya cepat timbul dan sangat cocok digunakan untuk keadaan akut, namun sangat disayangkan, pemakaian furosemida dapat menimbulkan efek samping gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, terutama ion Natrium dan Kalium. Kedua ion ini banyak yang dieksresikan, sehingga bisa menimbulkan hiponatrinemia dan hipokalemia (Agoes, 1992; Ganiswara S.G,1995; Mutschler E,1991).

Oleh karena adanya efek samping berupa gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang ditimbulkan furosemida, penulis tertarik untuk meneliti tumbuhan obat yang kemungkinan berefek  sebagai diuretika  dengan menggunakan ekstrak etanol daun tempuyung serta membandingkannya dengan furosemida.
 
 
Metode Penelitian

Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang dipakai adalah penelitian eksperimental laboratorium.

Populasi, sampel, besar sampel dan teknik pengambilan sampel
Populasi adalah tikus jputih galur wistar  sehat,umur ± 4 bulan, berat 180-220 gram. Sampel adalah 28 ekor tikus putih galur wistar  yang diambil secara acak ( simple random sampling) dan dibagi menjadi 7 kelompok:

Kelompok I (KI)
Kontrol
Kelompok II (KII)
Dosis  ekstrak 100 mg/kgBB
Kelompok III (KIII)   
Dosis  ekstrak 300 mg/kgBB
Kelompok IV (KIV)  
Dosis ekstrak1000 mg/kgBB
Kelompok V (KV) 
Dosis Furosemid 0,36 mg/kgBB
Kelompok VI (K VI)
Dosis Furosemid 0,72 mg/kgBB
Kelompok VII(K VII)
Dosis Furosemida 1,14 mg/kg BB

Bahan dan Hewan percobaan
1.       Ekstrak etanol  daun tempuyung.
2.       Tablet furosemid 40 mg, aquades steril, makanan tikus, NaCl 0,9%, Na CMC 1%, Etanol 70%, dan air hangat.
3.       Tikus putih galur wistar, umur 4 bulan, berat 180-220 gram, sebanyak 28 ekor.

Alat Penelitian
Alat penelitian yang digunakan adalah kandang tikus, tempat makan dan minum tikus, timbangan, rotary evaporator, kapas, spuit oral, minor set, seperangkat alat destilasi, cawan petri, labu erlemeyer, labu ukur, beker gelas, gelas ukur, jarum oral, spatel, alu, lumpang, sudip, seperangkat alat pengujian diuresis beserta kandang metabolic.

Pelaksanaan Penelitian
Pengumpulan Tumbuhan Obat dan Pembuatan Simplisia                                        
Bahan tumbuhan obat yaitu daun tempuyung sebanyak 2 kilogram didapat dari lingkungan sekitar kampus Universitas Andalas. Daun ini dicuci bersih dengan air mengalir kemudian dikeringkan di udara terbuka dan dihaluskan menjadi serbuk (dirajang) yang disebut simplisia (Djamal, 1990).

Identifikasi Tumbuhan Obat
Sampel tumbuhan obat yaitu tumbuhan tempuyung  diidentifikasi di Herbarium ANDA jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas Padang dengan nomor koleksi H-01 ANDA

Ekstraksi Simplisia Secara maserasi dengan Etanol 70 %
Untuk ekstraksi sampel digunakan metode maserasi. Sampel yang telah dirajang tipis dimaserasi dengan etanol 70% sampai terendam. Biarkan di tempat gelap selama 5 hari dengan sekali-kali diaduk. Dipisahkan hasil maserasi dengan penyaringan menggunakan corong yang lubangnya ditutup dengan kapas. Hasil saringan disimpan dalam botol berwarna gelap terhindar dari cahaya. Ulangi maserasi ini selama 3 kali, sehingga didapatkan hasil maserasi yang agak bening. Hasil maserasi dipekatkan dengan rotary evaporator sehingga didapat ekstrak etanol daun tempuyung.

Penentuan Dosis
Dosis yang diberikan pada hewan percobaan untuk ekstrak etanol daun tempuyung dibuat variasi dosis yaitu dengan dosis 100, 300 dan 1000 mg/kgBB. Untuk furosemida dipakai variasi dosis 0,36, 0,72,dan 1,14 mg/kgBB.

Persiapan Hewan Percobaan
Pada penelitian ini digunakan tikus putih  sebanyak 28 ekor yang terlebih dahulu diadaptasikan selama 7 hari. Tikus dikelompokkan secara acak dalam 7 kelompok percobaan, tiap kelompok terdiri dari 4 ekor tikus. Sebelum pengujian dilakukan tikus dipuasakan makan selama 16 jam, minum tetap diberikan (DepKes RI, 1995).

Pengujian efek diuretika pada hewan coba
Tikus sebanyak 28 ekor yang dibagi dalam 7 kelompok (setiap 1 kelompok terdapat 4 ekor). Masing-masing kelompok diberikan air hangat secara oral sebanyak 10 ml/kgBB. 1 kelompok sebagai kontrol tanpa diberikan perlakuan. 3 kelompok diberikan suspensi secara oral dari ekstrak etanol daun tempuyung dengan dosis 100, 300, 1000 mg/kgBB. 3 kelompok diberikan furosemid dengan dosis 0,36, 0,72 dan 1,14 mg/kgBB. Kemudian tikus ditempatkan dalam kandang metabolik, urinnya ditampung dengan wadah yang mempunyai skala pengukuran. Volume urin dicatat setiap 30 menit selama 4 jam. 

Penentuan kadar Kalium dan Natrium darah (Khopkar, 1990)
Pengukuran jumlah natrium di dalam darah dilakukan dengan menggunakan alat fotometer nyala. Sampel darah tikus diambil melalui arteri karotid (pada leher). Sampel darah ini  (1 ml) dimasukkan ke dalam tiube ependorf, kemudian sentrifus dengan alat (Gallenkamp centrifuge) dengan kecepan 1700 rpm selama 5 menit. Kemudian, darah di dalam tube ependorf akan terpisah menjadi dua bahagian, iaitu bahagian sel darah dan bahagian plasma (bening). Bahagian plasma dipipetkan ke dalam tabung ependorf yang lain dan sampel ini siap untuk penentuan kadar Kalium dan Natrium darah.
Sebelum dilakukan pengukuran natrium dan kalium darah, terlebih dahulu alat fotometer nyala dikalibrasi dengan air suling sehingga bacaan alat menunjukkan angka nol (0.0). Kemudian kalibrasi lagi dengan larutan standar natrium (MultiCal = 140 mmol NaCl di dalam 1000 ml air suling) yang sudah encerkan pada 1:200  sehingga bacaan alat menunjukkan angka 140. Kalibrasi alat ini diulangi beberapa kali sehingga bacaan "blank" menunjukkan angka 0.0 (± 0.2) dan bacaan standar 140 ± 1%. Serum darah tikus diencerkan dengan air suling pada kadar yang sama dengan larutan standar yaitu 1:200 sebelum analisa dilakukan. Angka yang terbaca pada alat saat pengujian adalah kadar natrium dalam mmol/1000ml atau mmol/L.
Perlakuan yang sama juga dilakukan untuk penentuan kadar Kalium dengan menggunakan larutan standar KCl. Penghitungan ini dilakukan sebelum diberikan kedua bahan obat dan sesudahnya.guna dilakukan sebelum diberikan bahan obat adalah sebagai parameter awal dari kadar natrium dan kalium darah pada tikus.

Pengolahan Data
Data hasil pengukuran volume urin tikus serta kadar Natrium dan kalium darah yang didapatkan, diolah secara statistik dengan menggunakan Statistical Product and Service Solution (SPSS) 11.0 dalam rancangan acak lengkap. Data numerik lebih dari dua variabel diuji dengan one way Anova, serta dilanjutkan dengan analisa Dunnett yaitu uji beda rerata perlakuan dengan kontrol (Bolton S,1990; Hanafiah K.A, 2005).

Hasil dan Pembahasan
Hasil Pengukuran Jumlah Urin
Jumlah urin yang dihitung setelah perlakuan antara pemberian ekstrak etanol daun tempuyung dengan furosemida sebagai manifestasi dari efek diuretika memberikan hasil seperti pada tabel 1.

Dari tabel 1 didapatkan bahwa rata-rata jumlah urin terbanyak adalah pada ekstrak etanol tempuyung dengan dosis 300 mg/kgBB yaitu 6.850 ml. Untuk pemberian furosemida dosis 0.72 mg/kgBB didapat rata-rata jumlah urin yaitu 6.575 ml. Rata-rata jumlah urin yang terhitung pada kedua bahan obat adalah di atas rata-rata jumlah urin kontrol yaitu     > 5.075 ml.

Tabel 1. Rata-rata jumlah urin pada 4 jam setelah pemberian ekstrak tempuyung  dan furosemida  dalam berbagai dosis.

Perlakuan

Rata-rata jumlah urin 4 jam setelah perlakuan
Kontrol
5.075 ml
Ekstrak dosis 100 mg/kg BB
5.825 ml
Ekstrak dosis 300 mg/kgBB
6.850 ml
Ekstrak dosis 1000 mg/kgBB
5.975 ml
Furosemida dosis 0.36 mg/kgBB
5.850 ml
Furosemida dosis 0.72 mg/kg BB
6.575 ml
Furosemida dosis 1.14 mg/kg BB
6.275 ml

Setelah pengujian secara statistik (ANOVA), dan dilanjutkan dengan analisa Tukey HSD apabila didapatkan perbedaan yang signifikan, dengan hasil pada derajat kepercayaan 95%. terdapat perbedaan rata-rata jumlah urin antara kontrol dengan semua kelompok perlakuaan yang signifikan dengan analisa varian, yaitu 0,000 < 0,05.

Setelah diuji dengan Tukey HSD, disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata jumlah urin yang signifikan pada  kelompok furosemida dan ekstrak etanol tempuyung dengan kontrol sebagai pembanding. Dan didapatkan bahwa antara ekstrak etanol tempuyung dalam dosis 300 mg/kgBB dengan furosemida dosis 0,72mg/kg BB tidak terdapat perbedaan rata-rata jumlah urin yang signifikan .

Furosemida dosis 40 mg merupakan dosis terapi setelah dikonversikan ke tikus menjadi 0,72 mg/kgBB yang sudah terbukti  sebelumnya secara uji klinis  memberikan efek diuretika yang optimal dengan manifestasi jumlah urin dan ternyata pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal ekskresi urin antara  pemberian furosemida dosis 0,72 mg/kgBB dengan ekstrak etanol tempuyung pada dosis yaitu 300 mg/kgBB da100 mg/kgBB . Hal ini menunjukan bahwa efek diuretika yang timbul akibat pemberian ekstrak etanol akar alang-alang pada ketiga dosis hampir sama dengan furosemida dosis 0,72 mg/kgBB.

Furosemida yang dikenal sebagai diuretika kuat yang memiliki mula kerja dan lama kerjanya cepat terlihat jelas dalam penelitian ini, sedangkan mula kerja ekstrak etanol tempuyung ketiga dosis lebih lambat dibandingkan furosemida dosis 0,72 mg/kgBB (Ganiswara S.G,1995, Tjay, 1986).


Hasil Penghitungan Kadar Natrium Darah
Kadar natrium darah  dihitung sebelum dan setelah perlakuan antara pemberian ekstrak etanol tempuyung dengan furosemida sebagai manifestasi dari efek diuretika memberikan hasil sebagai berikut:                                        



Tabel 2. Rata-rata kadar natrium darah sebelum dan sesudah perlakuan antara pemberian ekstrak tempuyung dengan furosemida dalam berbagai dosis

Perlakuan
Purata kadar Na darah  (ppm)
Penurunan kadar Na darah (ppm)
sebelum
sesudah
Kontrol
8.58
8.45
0.13
Ekstrak dosis 100 mg/kg BB
8.78
8.15
0.63
Ekstrak dosis 300 mg/kgBB
8.68
7.21
1.47
Ekstrak dosis 1000 mg/kgBB
8.87
8.08
0.79
Furosemida dosis 0.36 mg/kgBB
8.74
7.60
1.14
Furosemida dosis 0.72 mg/kg BB
8.80
7.60
1.2
Furosemida dosis 1.14 mg/kg BB
8.76
7.93
0.83
           



Dari tabel 2 didapatkan bahwa setelah diberi perlakuan,maka terjadi penurunan rata-rata kadar natrium darah untuk kedua bahan obat,yaitu di atas penurunan rata-rata pada kopntrol >0,13. Rata-rata kadar natrium darah paling rendah setelah diberikan perlakuan adalah pada ekstrak etanol tempuyung dengan dosis 300 mg/kgBB yaitu 7,21 ppm dengan penurunan rata-rata 1,47 ppm . Untuk pemberian furosemida adalah pada dosis 0,72 mg/kgBB   yaitu 7,6 ppm dengan penurunan rata-rata1,2 ppm. 

Dari hasil uji lanjut diketaui bahwa pada derajat kepercayaan 95% pada kedua bahan obat ini  memberikan perbedaan yang  yang signifikan antar kadar natrium darah sebelum dan sesudah diberikan perlakuan dengan ekstrak etanol tempuyung dan furosemida dalam berbagai dosis.

Hasil Penghitungan Kadar kalium Darah

Penghitungan kadar kalium darah dilakukan sebelum dan setelah perlakuan antara pemberian ekstrak tempuyung dengan furosemida sebagai manifestasi dari efek diuretika memberikan hasil sebagai berikut:



Tabel 3. Rata-rata kadar kalium darah sebelum dan setelah perlakuan   antara pemberian ekstrak tempuyung dengan furosemida dalam berbagai dosis.

Perlakuan
Purata kadar
K darah  (ppm)
Penurunan kadar
K darah (ppm)
sebelum
sesudah
Kontrol
5.06
5.01
0.05
Ekstrak dosis 100 mg/kg BB
5.51
5.36
0.15
Ekstrak dosis 300 mg/kgBB
5.22
4.58
0.64
Ekstrak dosis 1000 mg/kgBB
5.35
4.88
0.47
Furosemida dosis 0.36 mg/kgBB
5.35
4.90
0.45
Furosemida dosis 0.72 mg/kg BB
5.13
4.29
0.84
Furosemida dosis 1.14 mg/kg BB
5.08
4.71
0.37



Dari tabel 3 didapatkan bahwa setelah diberi perlakuan,maka terjadi penurunan rata-rata kadar kalium darah untuk kedua bahan obat yaitu diatas penurunan rata-rata pada kontrol > 0,05. Rata-rata kadar kalium darah paling rendah setelah diberikan perlakuan  adalah furosemida dosis 0,72 mg/kg BB yaitu 4,29 ppm dengan penurunan rata-rata 0,84 ppm. Untuk ekstrak etanol tempuyung dengan dosis 300 mg/kgBB yaitu 4,58 ppm dengan penurunan rata-rata 0,64 ppm.

Setelah didapatkan hasil, maka dilakukan uji statistik berupa analisa Paired Samples t -test dengan hasil sebagai berikut: bahwa pada derajat kepercayaan 95% pada kedua bahan obat ini memberikan perbedaan yang signifikan antara rata- rata kadar kalium darah sebelum dan sesudah diberikan perlakuan ekstrak tempuyung dan furosemida dalam berbagai dosis.



Kesimpulan 

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak tempuyung dosis 300 mg/kgBB mempunyai daya diuresis tertinggi yaitu 6.850 ml sedangkan furosemida 0.72 mg/kg BB 6.575 ml dengan kontrol 5,075 ml. Dari penghitungan kadar natrium dan kalium darah didapatkan kadar natrium dan kalium terendah pada pemberian ekstrak 300 mg/kgBB yaitu sebanyak 7.21 ppm dan 4.58 ppm, sedangkan kadar natrium dan kalium darah terendah pada pemberian furosemida dosis 0.72 mg/kgBB yaitu sebanyak 7.60 ppm dan 4.29 ppm dengan kontrol natrium 8.45 ppm dan kalium 5.01 ppm. Ekstrak tempuyung dosis 300 mg/kg BB mempunyai efek diuretika yang sedikit lebih kuat berbanding furosemida dosis 0.72 mg/kg BB

Saran

1.       Perlu penelitian lebih lanjut mengenai mekanisme kerja dan senyawa utama dari ekstrak etanol tempuyung yang menyebabkan diuresis dan diduga memiliki efek diuretika yang lebih baik dari furosemida.
2.       Perlu penelitian lebih lanjut mengenai uji praklinik dan uji klinik,sehingga tanaman ini dapat direkomendasikan untuk dijadikan obat fitofarmaka.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes A, 1992. Catatan Kuliah Farmakologi. Bagian I, Jakarta: EGC, hlm 124.
Bolton S,1990. Pharmaceutical Statistics practical and clinical application. 2-nd                 edition, New York: Marcel Dekker inc, hlm 263-270,282.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1977. Materia Medika Indonesia. Jilid I, Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, hlm 100.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV, Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, hlm 400,401.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1992. Peraturan Menteri Kesehatan RI no.76/Menkes/Per/IX/1992 tentang pedoman fitofarmaka. Departemen Kesehatan RI.
Djamal R, 1990. Prinsip-prinsip Dasar Bekerja daalm Kimia Bahan Alam.           Padang: Universitas Andalas, hlm 32,36-40,58.
Ganiswara S.G, 1995. Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, Jakarta: bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hlm 389-392.
Hanafiah K.A, 2005. Rancangan Percobaan Toeri dan Aplikasi. Ed revisi ke 10,                Jakarta: Rajagrafindo Persada, hlm 74-78
Hembing H.M,1992. Tanaman berkhasiat obat di Indonesia. Jilid II, Jakarta: Pustaka Kartini
Khopkar S,M,1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UIPress. Hlm 275-287
Lukmanto Henny,1991. IPI Informasi akurat Produk Farmasi di Indonesia. Jakarta:EGC Penerbit Buku Kedokteran, hlm 95.
Mutschler E,1991. Dinamika Obat. Edisi V, Bandung: Penerbit ITB, hlm 565-568, 571-573.
Siswanto Y.W,1997. Penanganan Hasil Panen Tanaman Obat Komersial. Jakarta:            Trubus Agriwidya.
Sutarjadi. 1992. Tumbuhan Indonesia sebagai sumber Obat, Kosmetik dan Jamu.            Bogor: Prosiding, Seminar dan Lokakrya Nasional Enbotani.
Tjay Y.H, Rahardja Kirana, 1986. Obat-obat penting khasiat penggunaan dan efek samping. Edisi 4, Jakarta:Departemen Kesehatan RI, hlm 372,374,375.
Van Steenis C.G.G.J, 1981. Flora. Cetakan ke-3, Jakarta Pusat: Prandya Paramita, hlm 430
siapha



Rabu, 25 Juni 2014

Mari belajar

MAKALAH OBAT ASLI INDONESAI

BAB   I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Indonesia sebagai negara tropis, dikenal dengan keanekaragaman hayati, termasuk didalamnya kekayaan berupa berbagai jenis tumbuhan yang oleh masyarakat digunakan sebagai obat tradisional. Penggunaan obat tradisional merupakan suatu tradisi warisan budaya bangsa dan diteruskan dari generasi kegenerasi, bertahan lestari dan tidak terpisah dari kehidupan masyarakat.
            Obat tradisional juga merupakan bagian dari kekayaan budaya, yang perlu dilestarikan dan ditingkatkan kualitasnya melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga pada saatnya nanti dapat menjadi obat alternatif disamping obat-obat moderen. Kebijaksanaan pengembangan obat tradisional tersebut semakin kokoh kedudukannya setelah GBHN 1988 mengamanatkan perlunya penggalian, penelitian, pengujian dan pengembangan obat-obat tradisional. 
            Upaya kearah itu sangat memungkinkan bila obat tradisional dapat dikembangkan menjadi fitofarmaka. Menurut ketentuan umum dari peraturan menteri Kesehatan Repoblik Indonesia Nomor 760/Menkes/Per/IX/1992 tentang fitofarmaka. Yang dimaksud dengan fitofarmaka adalah sediaan obat yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya, bahan bakunya terdiri dari simplisia atau sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan yang berlaku. 
            Melalui pendekatan dengan pengembangan fitofarmaka tersebut, maka penelitian kimia perlu dilakukan untuk standarisasi. Salah satu parameter standar mutu obat radisional adalah parameter standar mutu untuk sediaan yang mempunyai formula tertentu. Untuk sediaan parameter standar mutu yang ditetapkan diantaranya adalah zat identitas. Zat identitas adalah zat yang dapat menunjukkan  zat identitas simplisia yang ditandai dengan adanya bercak yang muncul pada kromatografi lapis tipis yang mengandung simplisia tersebut, dan mempunyai nilai Rf yang sama. 
            Pemeriksaan zat identitas yang merupakan ciri khas untuk segala wujud sediaan obat tradisional ditetapkan secara kualitatif melalui pengambilan pola kromatografi yakni kromatografi lapis tipis. Banyak bahan asli Indonesia lama sebelum perang dunia ke II, telah diselidiki dengan seksama dan ternyata baik dunia ilmu pengobatan maupun ilmu alam yang resmi telah menerima baik hasil penyelidikan tersebut, terutama mengenai khasiat bahan-bahan tersebut sampai sekarang juga masih dipergunakan dalam dunia kedokteran Indonesia.
            Meskipun nenek moyang kita pada zaman dahulu kala telah menggunakan tumbuh-tumbuhan tidak hanya untuk bahan makanan dan bahan bakar saja, tetapi juga untuk bahan obat-obatan, namun tak ada seorang pun hingga pertengahan abad ke XVI membuat riwayat ataupun dokumentasi tentang obat-obatan.

I.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Standarisasi ?
2. Apa sajakah Aspek parameter Standardisasi ?
  3. Penetapan apa saja yang berkaitan dengan aspek penetapan non spesifik?
    4. Bagaimana  Uji klinik dan pra-klinik untuk mengetahui mutu dari Obat Tradisional ?






















BAB II
PEMBAHASAN
            Obat tradisional adalah obat yang berasal dari bahan baku alam yang dikeringkan yang dibuat secara turun temurun yang biasanya dikemas dalam wadah yang sederhana berbungkus plastik atau kemasan botol yang memiliki khasiat tertentu yang diperoleh dari tradisi turun temurun (Ahmad Najib. 2008).
            Obat tradisional terbagi atas 3 bagian yaitu : (Ahmad Najib. 2008)
Jamu, contohnya jamu godog, jamu obat kuat lelaki, jamu untuk menggemukkan, dan lain sebagainya.Obat herbal standar, contohnya Antangin JRG dan Fitofarmaka.
            Jamu sudah sejak zaman dulu masyarakat Indonesia mengenal dan mengetahui tanaman yang berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan kesehatan formal dengan obat-obat modernnya. Pengetahuan tentang tanaman obat ini merupakan warisan budaya bangsa berdasarkan pengalaman, yang secara turun temurun telah diwariskan oleh generasi terdahulu kepada generasi berikutnya termasuk generasi saat ini. Pengobatan dan pendayagunaan obat tradisional tersebut merupakan salah komponen program pelayanan kesehatan dasar, serta merupakan suatu alternatif untuk memenuhi kesehatan dasar penduduk dibidang kesehatan (Depkes RI. 1978).
            Standarisasi adalah proses dalam menetapkan atau merumuskan dan merevisi standar yang dilaksanakan secara tertib. Standar adalah sesuatu yang dibakukan dan disusun berdasarkan konsesus semua pihak terkait dengan memperhatikan syarat-syarat kesehatan, keamanan, keselamatan lingkungan, berdasarkan pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. (Dr. Satrijo. 1985).
            Pemakaian bagian-bagian tumbuh-tumbuhan untuk obat-obatan tidak hanya terdiri melulu dari satu jenis daun, kulit, buah atau getah, tetapi kebiasaan selalu dicampuri atau bergandengan dengan lain-lain. (Dr. Satrijo. 1985).
            Upaya mengobati berbagai macam penyakit dengan ramuan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang diperoleh dari dalam hutan dan atau halaman-halaman, sebenarnya telah berabad-abad lamanya dilakukan oleh lelihur kita, misalnya terhadap penyakit :
1.                  Muntah-muntah/mual, sebagai obat digunakan: daun kemangi, jintan hitam, daun/minyak serei, rimpang cekur, buah kapulogo, buah pala, kayu manis, daun inggu dan umbi bawang putih.
2.                  Demam malaria, digunakan sebagai obat : daun johar, daun jungrahab, daun kaki kuda, daun pepaya, daun gelinggang,batang brotowali.
3.                  Disentri/mejan, sebagai obat digunakan : kikisan kayu cendana, rimpang kunyit, daun jambu biji. kencing batu, sering-sering digunakan daun atpokat, daun keji / picah- beling. cholera untuk obat digunakan rimpang lengkuas merah, rimpang lempoyang. (Sudarman M, Harsono R. 1985)
Berdasarkan Undang-undang No. 23 tahun 1992 adalah bahan atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik, atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Adapun beberapa jenis Obat Tradisional adalah sebagai berikut :



1.             Jamu (Empirical Based Herbal Medicine)
Jamu adalah obat tradisional yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut. Jamu disajikan secara tradisional dalam bentuk seduhan, pil, atau cairan. Umumnya, obat tradisional ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur. Jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah secara uji klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Selain adanya klaim khasiat yang dibuktikan secara empiris, jamu juga harus memenuhi persyaratan keamanan dan standar mutu.
2.    Obat Herbal Terstandar (Standarized Based Herbal Medicine)
Merupakan obat tradisional yang disajikan dari hasil ekstraksi atau penyarian bahan alam, baik tanaman obat, hewan, maupun mineral. Dalam proses pembuatannya, dibutuhkan peralatan yang tidak sederhana dan lebih mahal dari jamu. Obat herbal terstandar umumnya ditunjang oleh pembuktian ilmiah berupa penelitian praklinis. Penelitian ini meliputi standarisasi kandungan senyawa berkhasiat dalam bahan penyusun, standarisasi pembuatan ekstrak yang higienis, serta uji toksisitas akut maupun kronis.
3.      Fitofarmaka (Clinical Based Herbal Medicine)
Merupakan obat tradisional yang dapat disejajarkan dengan obat modern. Proses pembuatannya telah terstandar ditunjang oleh bukti ilmiah sampai uji klinis pada manusia. Karena itu, dalam pembuatannya diperlukan peralatan berteknologi modern, tenaga ahli, dan biaya yang tidak sedikit.
Secara ringkas kesimpulan dari penjelasan di atas beserta logonya (logo biasanya terletak di pembungkus, wadah, etiket, atau brosur Obat Tradisional tersebut) masing-masing tabel di bawah ini adalah sebagai berikut :

http://nurfaisyah.web.id/wp-content/uploads/2012/04/OT.jpg

Sediaan herbal di Indonesia harus memenuhi kualitas pada Materia Medika Indonesia (MMI) dan Farmakope Herbal. Standardisasi ini meliputi dua aspek, yaitu:
1. Aspek parameter spesifik
Dilakukan pada senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitas farmakologis yang melibatkan analisa kualitatif dan kuantitatif senyawa aktif.
2. Aspek parameter non spesifik
Meliputi aspek kimia, mikrobiologi, dan fisik yang akan mempengaruhi keamanan konsumen dan stabilitas misal kadar logam berat, aflatoksin, kadar air, dan lain-lain.
Salah satu tahap standarisasi Yaitu uji penetapan parameter non spesifik yang meliputi penetapan kadar air (moisture content), penetapan kadar Abu (ash value), penetapan logam berat (heavy metal), penetapan residu pestisida (pesticide residues), cemaran mikroorganisme (microbial contaminant), dan identifikasi aflatoksin.
Beberapa aspek parameter non spesifik Yaitu, penetapan kadar air (moisture content), penetapan kadar Abu (ash value), penetapan logam berat (heavy metal), penetapan residu pestisida (pesticide residues).cemaran mikroorganisme (microbial contaminant), dan identifikasi aflatoksin
1. Penetapan kadar air
Salah satu jaminan kemurnian dan kontaminasi adalah penetapan kadar air. Nilai kadar air yang tidak sesuai dengan standar Akan dapat mempengaruhi kualitas herbal Yaitu Sebagai media tumbuh mikroorganisme yang Baik. Pertumbuhan jamur ataupun bakteri dapat menyebabkan terjadinya perubahan metabolit sekunder. Selain itu kadar air yang tinggi dapat menyebabkan masih berlangsungnya reaksi enzimatis yang dapat merubah metabolit sekunder di dalam tanaman tersebut. Perubahan metabolit sekunder Akan sangat mempengaruhi kualitas herbal itu sendiri dalam hal aktivitas farmakologinya.
Penetapan kadar air dapat dilakukan dengan 3 metode tergantung pada senyawa kimia didalamnya,yakni titrasi, gravimetri, dan destilasi. Umumnya kadar air ditetapkan dengan cara destilasi apabila terdapat minyak astir di dalamnya. Metode penetapan kadar air dapat di baca lebih lanjut dalam buku : monografi ekstrak tumbuhan obat Indonesia
2. Penetapan kadar Abu
Dalam  menentukan kadar Abu, bahan tanaman di bakar dan residu Abu yang dihasilkan diukur Sebagai kadar Abu total. Kadar Abu total menunjukkan jumlah senyawa anorganik, mineral internal dan eksternal. Kadar Abu harus sesuai berdasarkan standar yang sudah ditetapkan di masing-masing ekstrak bahan tanaman.
Dari Abu total yang dihasilkan kita dapat menentukan kadar Abu tidak larut asam, dengan cara Abu total dilarutkan dalam asam klorida dan di bakar. Sisa Abu pembakaran merupakan  nilai Abu tidak larut asam. Kadar Abu tidak larut asam  menandakan  kehadiran silikat yang terdapat didalam pasir atau tanah. (AOAC, 2005)
3. Penetapan logam berat
Kontaminasi logam berat dapat terjadi secara tidak sengaja ataupun sengaja untuk ditambahkan. Logam berat yang berbahaya dan Ada di sediaan OT adalah merkuri, timbal, tembaga, kadmium, dan arsen. (AOAC, 2005)
Cara penentuan logam berat yang sederhana dapat ditemukan dalam pharmacopoeias dan didasarkan pada reaksi warna menggunakan reagen spesifik Yaitu thiocetamide atau diethyldithiocarbamate. Kehadiran logam berat diukur dengan membandingkan menggunakan standar. (WHO, 1988)
Penetapan logam berat dapat menggunakan instrument seperti Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), Inductively coupled plasma (ICP), dan Neutron Activation Analysis (NAA). (Watson, 1999)
4. Penetapan residu pestisida
OT dapat mengandung residu pestisida, yang terakumulasi melalui proses agricultural seperti penyemprotan, treatment pada tanah Selama proses penanaman, dan penggunaan pestisida gas Selama penyimpanan. Banyak pestisida mengandung klorin atau fosfat. Pengukuran residu pestisida dapat dilakukan dengan menetapkan total organik klorin dan/ total organik fosfat apabila tercemar pestisida lebih dari satu (Kunle, et al., 2012)
Penentuan pestisida tunggal dapat dilakukan dengan metode kromatografi gas (Kunle, et al., 2012). Tetapi apabila senyawa pestisida atau senyawa lain juga terdeteksi dalam kromatogram suatu residu pestisida maka perlu dilakukan suatu perlakuan kimiawi atau Fisika lain untuk menghilangkan atau mengurangi intervensi senyawa senyawa tersebut sebelum dilakukan kuantitasi residu pestisida yang ingin ditentukan. (BPOM, 2004)

Cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) terdiri atas :
1.      Proses produksi
2.      QC / pemeriksaan mutu
3.      Personalia, meliputi : fisik dan mental.
4.      Peralatan, terdiri atas optimal (keamanan, sesuai dengan kapasitas produksi ukuran alat) dan minimum (timbangan, lampu spiritus, literatur)
5.      Sanitasi dan higiene; kebersihan harus terjaga
6.      Pengolahan dan pengemasan.
7.      Pengawasan mutu.
8.      Inspeksi diri
9.      Dokumentasi
Sistem informasi, sistem ini gunanya untuk memperkecil resiko salah tafsir dan keliru, yang meliputi
1.      Dokumentasi spesifikasi
  1. Dokumentasi produksi induk
  2. Catatan pengolahan bets
  3. Catatan pengemasan bets
  4. Dokumentasi pengawasan mutu
  5. Dokumen penyimpanan dan distribusi
  6. Dokumen pemeliharaan dan kebersihan peralatan 
  7. Prosedur dan catatan tentang inspeksi diri 
  8. Pedoman dan catatan tentang latihan CPOTB
  9. Kontrol distribusi
  10. Syarat standar.


Agar suatu produksi tidak mengalami penurunan maka harus melakukan pengembangan. Aspek-aspek yang perlu dikembangkan mencakup :
Bahan baku. Ini dapat dilakukan dengan :
a.  Pendekatan, yang terdiri atas :
1.         Bioaktif compound (senyawa aktif biologik) yang langsung berasal dari tanaman asli dari alam/natural
2.         Peningkatan aktivitas biologik semisintetik.
3.         Prototipe bahan alam
4.         Kimia medisinal menyangkut obat moderen.
Obat moderen berasal dari :
1.      Penemuan baru dari bahan alam
2.      Bahan alam darat (biota darat)
3.      Bahan alam laut (biota laut)
b. Screening, yang terdiri atas :
1. Etnofarmakologik, yaitu simplisia yang digunakan berdasarkan pengalaman dari masyarakat.
2.   Biologik, terbagi atas dua yaitu efek farmakologik dan efek toksikologi.
3.   Farmakodinamik
4.   Toksisitas lanjut, meliputi sub akut, kronis dan akut.
Formulasi menyangkut fitofarmaka Uji, terdiri atas :
1.      Penentuan toksisitas dan khasiat dengan metode farmakodinamik
  1. Standarisasi sederhana.
  2. Penentuan produk terstandar
  3. Uji klinik
Sebelum melakukan uji klinik terlebih dahulu lakukan uji praklinik dengan  menggunakan hewan coba. (Ahmad Najib. 2008) Ketetapan penggunaan terdiri atas:
·       Kebenaran bahan. 
Dalam hal kebenaran bahan yang perlu diperhatikan adalah mengenai spesies yang tepat terhadap khasiat yang diinginkan.
·       Ketepatan dosis
Harus memiliki dosis yang tepat.


·       Ketepatan cara penggunaan
Dimana cara penggunaannya harus tepat. Misalnya kunyit untuk nyeri haid biasanya ditambahkan asam, contohnya kiranti. Jika tidak ditambahkan asam maka kurang efektif. Maka diperlukan kombinasi.
·       Ketepatan indikasi
Dimana indikasinya harus tepat. Misalnya : Kecubung (Datura metle). Jika diisap gunanya untuk bronkodilator tapi jika diminum daunnya maka akan memabukkan. 
·       Ketetapan telaah informasi
Dimana disini harus valid.
Tanpa penyalahgunaan Ketepatan pemilihan obatCari tanaman obat yang benar-benar tepat dalam penyembuhan penyakit yang diinginkan (Ahmad Najib. 2008) Undang-undang tentang kesehatan obat tradisional ada pada UU no 23 tahun 1992 :Pasal 7 menyangkut pengertian. Pasal 10 menyangkut bahan baku (Ahmad Najib. 2008).




















BAB  III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Obat tradisional adalah obat yang berasal dari bahan baku alam yang dikeringkan yang dibuat secara turun temurun yang biasanya dikemas dalam wadah yang sederhana berbungkus plastik atau kemasan botol yang memiliki khasiat tertentu yang diperoleh dari tradisi turun temurun. Obat tradisional meliputi : jamu, obat herbal standar dan fitofarmaka.
Hal penting yang perlu diketahui pada obat tradisional adalah bahan baku dalam hal ini adalah simplisia yang merupakan bahan alam kering baik yang berasal dari nabati, hewani maupun mineral; cara pembuatannya, kemasan, khasiat, dan regulasi.
Simplisia adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apapun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan.
Simplisia ada yang tumbuh secara liar dan ada simplisia yang dibudidayakan. Dimana keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan simplisia liar adalah merupakan kekurangan dari simplisia budidaya.
Pengolahan bahan baku obat tradisional terdiri atas : pengumpulan/panen, sortasi basah, pencucian, pengeringan, sortasi kering, perajangan, pengepakan, dan pencegahan mikroorganisme.
Cara pembuatan obat tradisional yang baik meliputi : personil, bangunan, peralatan, sanitasi dan hygiene, penyiapan bahan baku, pengolahan dan pengemasan, pengawasan mutu, inspeksi diri atau audit mutu, dokumentasi, dan penanganan terhadap hasil pengamatan produk jadi peredaran.
Aspek-aspek yang perlu dikembangkan oleh suatu produksi agar tidak menurun yaitu dari aspek bahan baku, ini dibagi atas dua yaitu dengan melakukan pendekatan dan screening; dari aspek formulasi, dan dengan melakukan uji (misalnya uji klinik, praklinik, dan lain sebagainya).
Ketetapan penggunaan terbagi atas : kebenaran bahan, ketepatan dosis, ketepatan cara penggunaan, ketepatan indikasi, ketepatan telaah informasi, tanpa penyalahgunaan dan ketepatan pemilihan obat











DAFTAR PUSTAKA
AOAC, 2005, Official Methods of Analysis of AOAC International, 18th Ed, AOAC International, Geithersburg, MD
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Materi Medika     Indonesia. Jilid II.Jakarta
Dr. A.P. Dharma. 1985. Tanaman Obat Tradisional Indonesia. PN Balai     Pustaka.
Drs. Gunawan, D dan Dra. Mulyani, S. 2004. Ilmu Obat Alam     (Farmakognosi Jilid I). Penebar Swadaya. Jakarta
Dr. Satrijo. 1985. Apotik Hidup (Obat Asli Indonesia). Penerbit dan T.B     Bahagia. Pekalongan.
Kartasapoetra, G. 1993. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Rineka     Cipta. Jakarta
M, Sudarman dan R, Harsono. 1985. Cabe Puyang Warisan Nenek     Moyang. PN   Balai Pustaka. Jakarta.
Najib, A. 2008 Bahan Ajar. UMI. Makassar

Steenis, van C.G.G.J. 1988. Flora. Untuk Sekolah di Indonesia. PT. Prada     Pramita. Jakarta.



..