Sabtu, 12 Juli 2014
Selasa, 08 Juli 2014
Perbandingan Efek Diuretika Serta Kadar Natrium
Dan Kalium Darah Antara Pemberian Ekstrak Etanol Daun Tempuyung (Sonchus
Arvensis Linn) Dengan Furosemida
Erlina Rustam Imelda FB dan Andani EP
Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas
Diterima tanggal : 17 Juli 2006
disetujui : 05 September 2006
Abstract
A study on comparative diuretic effect and the sodium
and potassium blood levels between the
administration the aethanolic extract of tempuyung leaves (Sonchus arvensis Linn) and furosemide
on 7 groups of male Wistar rats has been done. Three groups were given
various doses of the aethanolic extract of tempuyung leaves (100; 300 and 1000
mg/kgBW respectively), three other groups were given furosemide with the doses
of 0.36; 0.72 and 1.14 mg/kgBW respectively and one control group. Results
showed that tempuyung extract with doses of 300 mg/kgBW had highest diuretic
effect (6.85 mL) in comparison to furosemide 0.72 mg/kg BW (6.575 mL) and
control (5,075 mL). The lowest natrium and potassium blood levels of 7.21 and 4.58 ppm respectively were found
after administration of 300 mg/kg BW extract compared to 7.60 and 4.29 ppm
respectively after the administration of 0.72 mg/kgBW furosemide (these of
control were 8.45 ppm and 5.01 ppm for sodium and potassium level
respectively). In summary the extract of tempuyung leave at doses 300 mg/kgBW
showed a stronger diuretic effect than furosemide at doses 0.72 mg/kgBW.
Keywords
: Sonchus Arvensi,
diuretik
Pendahuluan
Indonesia memiliki keanekaragaman tanaman obat, dimana
lebih dari 30.000 spesies tanaman dari sekitar 40.000 spesies di dunia, dan
baru 800-1200 spesies di antaranya diketahui berkhasiat sebagai obat atau
digunakan sebagai bahan obat. Menurut Depkes RI, definisi tanaman obat Indonesia sebagaimana tercantum dalam SK Menkes
No. 149/ SK/ Menkes/ IV/ 1978, yaitu tanaman atau bagian tanaman yang digunakan
sebagai bahan obat tradisional atau jamu; tanaman atau bagian tanaman yang
digunakan sebagai formula bahan baku
obat; atau tanaman atau bagian tanaman yang diekstraksikan, dan ekstraksi
tersebut digunakan sebagai obat (Siswanto, 1997; Sutarjadi,1992).
Beberapa tanaman obat dapat digunakan sebagai obat
diuretika diantaranya alang-alang, tempuyung, kumis kucing, keji beling,
meniran, daun sendok dan lain-lain.dimana penelitian dan pengembangan tumbuhan
obat yang berkhasiat diuretika ini merupakan salah satu prioritas Departemen
Kesehatan Republik Indonesia didalam penggalian, pelestarian, pengembangan dan
pemanfaatan tumbuhan obat Indonesia (DepKes RI, 1977; DepKes RI, 1992; Hembing,
1992; Lukmanto, 1991; Van Steenis, 1981).
Dari sekian banyak tanaman obat yang berkhasiat
sebagai diuretika tempuyung merupakan salah satu yang popular bahkan juga telah
diolah dalam skala industri. Pada tahun 1980-an di daerah Cibinong, dijual teh
cabining yang terbuat dari serbuk daun kering tempuyung sebagai hasil temuan
tim yang dikoordinir oleh Soekarto,namun sampai sekarang belum juga tuntas
sebagai obat fitofarmaka. .
Furosemida merupakan kelompok diuretika
kuat yang telah teruji secara medis ilmiah. Sebagai diuretika kuat, furosemida
merupakan obat yang paling sering digunakan di Indonesia , yaitu sekitar 60%
dibandingkan dengan diuretika kuat yang lain. Hal ini terjadi karena mula
kerja, waktu paruh dan waktu kerja relatif singkat, sehingga efek diuretikanya
cepat timbul dan sangat cocok digunakan untuk keadaan akut, namun sangat
disayangkan, pemakaian furosemida dapat menimbulkan efek samping gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit, terutama ion Natrium dan Kalium. Kedua ion
ini banyak yang dieksresikan, sehingga bisa menimbulkan hiponatrinemia dan
hipokalemia (Agoes, 1992; Ganiswara S.G,1995; Mutschler E,1991).
Oleh karena adanya efek samping berupa
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang ditimbulkan furosemida,
penulis tertarik untuk meneliti tumbuhan obat yang kemungkinan berefek sebagai diuretika dengan menggunakan ekstrak etanol daun
tempuyung serta membandingkannya dengan furosemida.
Metode Penelitian
Rancangan
Penelitian
Rancangan penelitian
yang dipakai adalah penelitian eksperimental laboratorium.
Populasi, sampel, besar sampel dan teknik
pengambilan sampel
Populasi adalah tikus jputih galur wistar sehat,umur ± 4 bulan, berat 180-220 gram.
Sampel adalah 28 ekor tikus putih galur wistar
yang diambil secara acak ( simple
random sampling) dan dibagi menjadi 7 kelompok:
|
Kelompok I (KI)
|
Kontrol
|
|
Kelompok II (KII)
|
Dosis
ekstrak 100 mg/kgBB
|
|
Kelompok III (KIII)
|
Dosis
ekstrak 300 mg/kgBB
|
|
Kelompok IV (KIV)
|
Dosis ekstrak1000 mg/kgBB
|
|
Kelompok V (KV)
|
Dosis Furosemid 0,36 mg/kgBB
|
|
Kelompok VI (K VI)
|
Dosis Furosemid 0,72 mg/kgBB
|
|
Kelompok VII(K VII)
|
Dosis Furosemida 1,14 mg/kg
BB
|
Bahan
dan Hewan percobaan
1. Ekstrak etanol daun tempuyung.
2. Tablet furosemid 40 mg, aquades steril,
makanan tikus, NaCl 0,9%, Na CMC 1%, Etanol 70%, dan air hangat.
3. Tikus putih galur wistar, umur 4 bulan,
berat 180-220 gram, sebanyak 28 ekor.
Alat Penelitian
Alat penelitian yang digunakan adalah
kandang tikus, tempat makan dan minum tikus, timbangan, rotary evaporator,
kapas, spuit oral, minor set, seperangkat alat destilasi, cawan petri, labu
erlemeyer, labu ukur, beker gelas, gelas ukur, jarum oral, spatel, alu,
lumpang, sudip, seperangkat alat pengujian diuresis beserta kandang metabolic.
Pelaksanaan Penelitian
Pengumpulan Tumbuhan Obat dan Pembuatan Simplisia
Bahan tumbuhan obat yaitu daun tempuyung sebanyak
2 kilogram didapat dari lingkungan sekitar kampus Universitas Andalas. Daun ini
dicuci bersih dengan air mengalir kemudian dikeringkan di udara terbuka dan dihaluskan
menjadi serbuk (dirajang) yang disebut simplisia (Djamal, 1990).
Identifikasi Tumbuhan Obat
Sampel tumbuhan obat yaitu tumbuhan
tempuyung diidentifikasi di Herbarium
ANDA jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas Padang dengan nomor koleksi H-01
ANDA
Ekstraksi
Simplisia Secara maserasi dengan Etanol 70 %
Untuk ekstraksi sampel digunakan metode
maserasi. Sampel yang telah dirajang tipis dimaserasi dengan etanol 70% sampai
terendam. Biarkan di tempat gelap selama 5 hari dengan sekali-kali diaduk.
Dipisahkan hasil maserasi dengan penyaringan menggunakan corong yang lubangnya
ditutup dengan kapas. Hasil saringan disimpan dalam botol berwarna gelap
terhindar dari cahaya. Ulangi maserasi ini selama 3 kali, sehingga didapatkan
hasil maserasi yang agak bening. Hasil maserasi dipekatkan dengan rotary
evaporator sehingga didapat ekstrak etanol daun tempuyung.
Penentuan
Dosis
Dosis yang diberikan pada hewan percobaan
untuk ekstrak etanol daun tempuyung dibuat variasi dosis yaitu dengan dosis
100, 300 dan 1000 mg/kgBB. Untuk furosemida dipakai variasi dosis 0,36,
0,72,dan 1,14 mg/kgBB.
Persiapan
Hewan Percobaan
Pada penelitian ini digunakan tikus
putih sebanyak 28 ekor yang terlebih
dahulu diadaptasikan selama 7 hari. Tikus dikelompokkan secara acak dalam 7
kelompok percobaan, tiap kelompok terdiri dari 4 ekor tikus. Sebelum pengujian
dilakukan tikus dipuasakan makan selama 16 jam, minum tetap diberikan (DepKes
RI, 1995).
Pengujian efek diuretika pada
hewan coba
Tikus sebanyak 28 ekor yang dibagi dalam 7 kelompok
(setiap 1 kelompok terdapat 4 ekor). Masing-masing kelompok diberikan air
hangat secara oral sebanyak 10 ml/kgBB. 1 kelompok sebagai kontrol tanpa
diberikan perlakuan. 3 kelompok diberikan suspensi secara oral dari ekstrak
etanol daun tempuyung dengan dosis 100, 300, 1000 mg/kgBB. 3 kelompok diberikan
furosemid dengan dosis 0,36, 0,72 dan 1,14 mg/kgBB. Kemudian tikus ditempatkan
dalam kandang metabolik, urinnya ditampung dengan wadah yang mempunyai skala
pengukuran. Volume urin dicatat setiap 30 menit selama 4 jam.
Penentuan kadar Kalium dan Natrium darah (Khopkar, 1990)
Pengukuran jumlah natrium di dalam darah dilakukan
dengan menggunakan alat fotometer nyala. Sampel darah tikus diambil melalui
arteri karotid (pada leher). Sampel darah ini
(1 ml) dimasukkan ke dalam tiube ependorf, kemudian sentrifus dengan
alat (Gallenkamp centrifuge) dengan kecepan 1700 rpm selama 5 menit. Kemudian,
darah di dalam tube ependorf akan terpisah menjadi dua bahagian, iaitu bahagian
sel darah dan bahagian plasma (bening). Bahagian plasma dipipetkan ke dalam
tabung ependorf yang lain dan sampel ini siap untuk penentuan kadar Kalium dan
Natrium darah.
Sebelum dilakukan pengukuran natrium dan kalium darah,
terlebih dahulu alat fotometer nyala dikalibrasi dengan air suling sehingga
bacaan alat menunjukkan angka nol (0.0). Kemudian kalibrasi lagi dengan larutan
standar natrium (MultiCal = 140 mmol NaCl di dalam 1000 ml air suling) yang
sudah encerkan pada 1:200 sehingga
bacaan alat menunjukkan angka 140. Kalibrasi alat ini diulangi beberapa kali
sehingga bacaan "blank" menunjukkan angka 0.0 (± 0.2) dan bacaan
standar 140 ± 1%. Serum darah tikus diencerkan dengan air suling pada kadar
yang sama dengan larutan standar yaitu 1:200 sebelum analisa dilakukan. Angka
yang terbaca pada alat saat pengujian adalah kadar natrium dalam mmol/1000ml
atau mmol/L.
Perlakuan yang sama juga
dilakukan untuk penentuan kadar Kalium dengan menggunakan larutan standar KCl.
Penghitungan ini dilakukan sebelum diberikan kedua bahan obat dan sesudahnya.guna
dilakukan sebelum diberikan bahan obat adalah sebagai parameter awal dari kadar
natrium dan kalium darah pada tikus.
Pengolahan Data
Data hasil pengukuran volume
urin tikus serta kadar Natrium dan kalium darah yang didapatkan, diolah secara
statistik dengan menggunakan Statistical
Product and Service Solution (SPSS) 11.0 dalam rancangan acak lengkap. Data
numerik lebih dari dua variabel diuji dengan one way Anova, serta dilanjutkan dengan analisa Dunnett yaitu uji beda rerata perlakuan
dengan kontrol (Bolton S,1990; Hanafiah K.A, 2005).
Hasil dan Pembahasan
Hasil Pengukuran Jumlah Urin
Jumlah urin yang dihitung
setelah perlakuan antara pemberian ekstrak etanol daun tempuyung dengan
furosemida sebagai manifestasi dari efek diuretika memberikan hasil seperti
pada tabel 1.
Dari tabel 1 didapatkan bahwa
rata-rata jumlah urin terbanyak adalah pada ekstrak etanol tempuyung dengan
dosis 300 mg/kgBB yaitu 6.850 ml. Untuk pemberian furosemida dosis 0.72 mg/kgBB
didapat rata-rata jumlah urin yaitu 6.575 ml. Rata-rata jumlah urin yang
terhitung pada kedua bahan obat adalah di atas rata-rata jumlah urin kontrol
yaitu > 5.075 ml.
Tabel
1. Rata-rata
jumlah urin pada 4 jam setelah pemberian ekstrak tempuyung dan furosemida dalam berbagai dosis.
|
Perlakuan
|
Rata-rata jumlah urin 4 jam
setelah perlakuan
|
|
Kontrol
|
5.075 ml
|
|
Ekstrak dosis 100 mg/kg BB
|
5.825 ml
|
|
Ekstrak dosis 300 mg/kgBB
|
6.850 ml
|
|
Ekstrak dosis 1000 mg/kgBB
|
5.975 ml
|
|
Furosemida dosis 0.36 mg/kgBB
|
5.850 ml
|
|
Furosemida dosis 0.72 mg/kg BB
|
6.575 ml
|
|
Furosemida dosis 1.14 mg/kg BB
|
6.275 ml
|
Setelah pengujian secara
statistik (ANOVA), dan dilanjutkan dengan analisa Tukey HSD apabila didapatkan perbedaan yang signifikan, dengan
hasil pada derajat kepercayaan 95%.
terdapat perbedaan rata-rata jumlah urin antara kontrol dengan semua kelompok
perlakuaan yang signifikan dengan analisa varian, yaitu 0,000 < 0,05.
Setelah
diuji dengan Tukey HSD, disimpulkan
bahwa terdapat perbedaan rata-rata jumlah urin yang signifikan pada kelompok furosemida dan ekstrak etanol
tempuyung dengan kontrol sebagai pembanding. Dan didapatkan bahwa antara
ekstrak etanol tempuyung dalam dosis 300 mg/kgBB dengan furosemida dosis
0,72mg/kg BB tidak terdapat perbedaan rata-rata jumlah urin yang signifikan .
Furosemida dosis 40 mg merupakan dosis terapi
setelah dikonversikan ke tikus menjadi 0,72 mg/kgBB yang sudah terbukti sebelumnya secara uji klinis memberikan efek diuretika yang optimal dengan
manifestasi jumlah urin dan ternyata pada penelitian ini tidak terdapat
perbedaan yang signifikan dalam hal ekskresi urin antara pemberian furosemida dosis 0,72 mg/kgBB
dengan ekstrak etanol tempuyung pada dosis yaitu 300 mg/kgBB da100 mg/kgBB .
Hal ini menunjukan bahwa efek diuretika yang timbul akibat pemberian ekstrak
etanol akar alang-alang pada ketiga dosis hampir sama dengan furosemida dosis
0,72 mg/kgBB.
Furosemida yang dikenal sebagai diuretika kuat
yang memiliki mula kerja dan lama kerjanya cepat terlihat jelas dalam
penelitian ini, sedangkan mula kerja ekstrak etanol tempuyung ketiga dosis
lebih lambat dibandingkan furosemida dosis 0,72 mg/kgBB (Ganiswara S.G,1995,
Tjay, 1986).
Hasil
Penghitungan Kadar Natrium Darah
Kadar natrium darah dihitung sebelum dan setelah perlakuan antara
pemberian ekstrak etanol tempuyung dengan furosemida sebagai manifestasi dari
efek diuretika memberikan hasil sebagai berikut:
Tabel 2. Rata-rata kadar
natrium darah sebelum dan sesudah perlakuan antara pemberian ekstrak tempuyung
dengan furosemida dalam berbagai dosis
|
Perlakuan
|
Purata
kadar Na darah (ppm)
|
Penurunan
kadar Na darah (ppm)
|
|
|
sebelum
|
sesudah
|
||
|
Kontrol
|
8.58
|
8.45
|
0.13
|
|
Ekstrak dosis 100 mg/kg BB
|
8.78
|
8.15
|
0.63
|
|
Ekstrak dosis 300 mg/kgBB
|
8.68
|
7.21
|
1.47
|
|
Ekstrak dosis 1000 mg/kgBB
|
8.87
|
8.08
|
0.79
|
|
Furosemida dosis 0.36 mg/kgBB
|
8.74
|
7.60
|
1.14
|
|
Furosemida dosis 0.72 mg/kg BB
|
8.80
|
7.60
|
1.2
|
|
Furosemida dosis 1.14 mg/kg BB
|
8.76
|
7.93
|
0.83
|
Dari tabel 2 didapatkan bahwa
setelah diberi perlakuan,maka terjadi penurunan rata-rata kadar natrium darah
untuk kedua bahan obat,yaitu di atas penurunan rata-rata pada kopntrol
>0,13. Rata-rata kadar natrium darah paling rendah setelah diberikan
perlakuan adalah pada ekstrak etanol tempuyung dengan dosis 300 mg/kgBB yaitu
7,21 ppm dengan penurunan rata-rata 1,47 ppm . Untuk pemberian furosemida
adalah pada dosis 0,72 mg/kgBB yaitu
7,6 ppm dengan penurunan rata-rata1,2 ppm.
Dari
hasil uji lanjut diketaui bahwa pada derajat kepercayaan 95% pada kedua bahan
obat ini memberikan perbedaan yang yang signifikan antar kadar natrium darah
sebelum dan sesudah diberikan perlakuan dengan ekstrak etanol tempuyung dan
furosemida dalam berbagai dosis.
Hasil
Penghitungan Kadar kalium Darah
Penghitungan kadar kalium darah dilakukan sebelum
dan setelah perlakuan antara pemberian ekstrak tempuyung dengan furosemida
sebagai manifestasi dari efek diuretika memberikan hasil sebagai berikut:
Tabel 3. Rata-rata kadar
kalium darah sebelum dan setelah perlakuan
antara pemberian ekstrak tempuyung dengan furosemida dalam berbagai dosis.
|
Perlakuan
|
Purata
kadar
K
darah (ppm)
|
Penurunan
kadar
K
darah (ppm)
|
|
|
sebelum
|
sesudah
|
||
|
Kontrol
|
5.06
|
5.01
|
0.05
|
|
Ekstrak dosis 100 mg/kg BB
|
5.51
|
5.36
|
0.15
|
|
Ekstrak dosis 300 mg/kgBB
|
5.22
|
4.58
|
0.64
|
|
Ekstrak dosis 1000 mg/kgBB
|
5.35
|
4.88
|
0.47
|
|
Furosemida dosis 0.36 mg/kgBB
|
5.35
|
4.90
|
0.45
|
|
Furosemida dosis 0.72 mg/kg BB
|
5.13
|
4.29
|
0.84
|
|
Furosemida dosis 1.14 mg/kg BB
|
5.08
|
4.71
|
0.37
|
Dari tabel 3 didapatkan bahwa
setelah diberi perlakuan,maka terjadi penurunan rata-rata kadar kalium darah
untuk kedua bahan obat yaitu diatas penurunan rata-rata pada kontrol > 0,05.
Rata-rata kadar kalium darah paling rendah setelah diberikan perlakuan adalah furosemida dosis 0,72 mg/kg BB yaitu
4,29 ppm dengan penurunan rata-rata 0,84 ppm. Untuk ekstrak etanol tempuyung
dengan dosis 300 mg/kgBB yaitu 4,58 ppm dengan penurunan rata-rata 0,64 ppm.
Setelah didapatkan hasil, maka dilakukan uji
statistik berupa analisa Paired Samples t -test dengan hasil sebagai berikut: bahwa pada derajat kepercayaan 95% pada
kedua bahan obat ini memberikan perbedaan yang signifikan antara rata-
rata kadar kalium darah sebelum dan sesudah diberikan perlakuan ekstrak
tempuyung dan furosemida dalam berbagai dosis.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
ekstrak tempuyung dosis 300 mg/kgBB mempunyai daya diuresis tertinggi yaitu
6.850 ml sedangkan furosemida 0.72 mg/kg BB 6.575 ml dengan kontrol 5,075 ml. Dari penghitungan kadar natrium dan kalium
darah didapatkan kadar natrium dan kalium terendah pada pemberian ekstrak 300
mg/kgBB yaitu sebanyak 7.21 ppm dan 4.58 ppm, sedangkan kadar natrium dan
kalium darah terendah pada pemberian furosemida dosis 0.72 mg/kgBB yaitu
sebanyak 7.60 ppm dan 4.29 ppm dengan kontrol natrium 8.45 ppm dan kalium 5.01
ppm. Ekstrak tempuyung dosis 300 mg/kg BB mempunyai efek diuretika yang sedikit
lebih kuat berbanding furosemida dosis 0.72 mg/kg BB
Saran
1. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai
mekanisme kerja dan senyawa utama dari ekstrak etanol tempuyung yang
menyebabkan diuresis dan diduga memiliki efek diuretika yang lebih baik dari
furosemida.
2. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai uji
praklinik dan uji klinik,sehingga tanaman ini dapat direkomendasikan untuk
dijadikan obat fitofarmaka.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes A, 1992. Catatan Kuliah Farmakologi. Bagian I, Jakarta : EGC, hlm 124.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia , 1977. Materia Medika Indonesia.
Jilid I, Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, hlm 100.
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV, Jakarta: Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan, hlm 400,401.
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 1992. Peraturan Menteri Kesehatan RI no.76/Menkes/Per/IX/1992
tentang pedoman fitofarmaka. Departemen Kesehatan RI.
Djamal R, 1990. Prinsip-prinsip
Dasar Bekerja daalm Kimia Bahan Alam. Padang:
Universitas Andalas, hlm 32,36-40,58.
Ganiswara S.G, 1995. Farmakologi
dan Terapi, Edisi IV, Jakarta: bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Hlm 389-392.
Hanafiah K.A, 2005.
Rancangan Percobaan Toeri dan Aplikasi. Ed revisi ke 10, Jakarta: Rajagrafindo Persada,
hlm 74-78
Hembing H.M,1992. Tanaman
berkhasiat obat di Indonesia. Jilid II, Jakarta: Pustaka Kartini
Khopkar S,M,1990. Konsep
Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UIPress. Hlm 275-287
Lukmanto Henny,1991. IPI
Informasi akurat Produk Farmasi di Indonesia. Jakarta:EGC Penerbit Buku
Kedokteran, hlm 95.
Mutschler E,1991.
Dinamika Obat. Edisi V, Bandung: Penerbit ITB, hlm 565-568, 571-573.
Siswanto Y.W,1997.
Penanganan Hasil Panen Tanaman Obat Komersial. Jakarta: Trubus Agriwidya.
Sutarjadi. 1992. Tumbuhan
Indonesia sebagai sumber Obat, Kosmetik dan Jamu. Bogor: Prosiding, Seminar dan Lokakrya Nasional Enbotani.
Tjay Y.H, Rahardja
Kirana, 1986. Obat-obat penting khasiat penggunaan dan efek samping. Edisi 4,
Jakarta:Departemen Kesehatan RI, hlm 372,374,375.
Van Steenis C.G.G.J,
1981. Flora. Cetakan ke-3, Jakarta Pusat: Prandya Paramita, hlm 430
siapha
Rabu, 25 Juni 2014
Mari belajar
MAKALAH OBAT ASLI INDONESAI
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Indonesia sebagai negara tropis, dikenal dengan keanekaragaman hayati,
termasuk didalamnya kekayaan berupa berbagai jenis tumbuhan yang oleh
masyarakat digunakan sebagai obat tradisional. Penggunaan obat tradisional
merupakan suatu tradisi warisan budaya bangsa dan diteruskan dari generasi
kegenerasi, bertahan lestari dan tidak terpisah dari kehidupan masyarakat.
Obat tradisional juga
merupakan bagian dari kekayaan budaya, yang perlu dilestarikan dan ditingkatkan
kualitasnya melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga pada
saatnya nanti dapat menjadi obat alternatif disamping obat-obat moderen.
Kebijaksanaan pengembangan obat tradisional tersebut semakin kokoh kedudukannya
setelah GBHN 1988 mengamanatkan perlunya penggalian, penelitian, pengujian dan
pengembangan obat-obat tradisional.
Upaya kearah itu sangat
memungkinkan bila obat tradisional dapat dikembangkan menjadi fitofarmaka.
Menurut ketentuan umum dari peraturan menteri Kesehatan Repoblik Indonesia
Nomor 760/Menkes/Per/IX/1992 tentang fitofarmaka. Yang dimaksud dengan
fitofarmaka adalah sediaan obat yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya,
bahan bakunya terdiri dari simplisia atau sediaan galenik yang telah memenuhi
persyaratan yang berlaku.
Melalui pendekatan dengan
pengembangan fitofarmaka tersebut, maka penelitian kimia perlu dilakukan untuk
standarisasi. Salah satu parameter standar mutu obat radisional adalah
parameter standar mutu untuk sediaan yang mempunyai formula tertentu. Untuk
sediaan parameter standar mutu yang ditetapkan diantaranya adalah zat
identitas. Zat identitas adalah zat yang dapat menunjukkan zat identitas
simplisia yang ditandai dengan adanya bercak yang muncul pada kromatografi
lapis tipis yang mengandung simplisia tersebut, dan mempunyai nilai Rf yang
sama.
Pemeriksaan zat identitas
yang merupakan ciri khas untuk segala wujud sediaan obat tradisional ditetapkan
secara kualitatif melalui pengambilan pola kromatografi yakni kromatografi
lapis tipis. Banyak bahan asli Indonesia lama sebelum perang dunia ke II, telah
diselidiki dengan seksama dan ternyata baik dunia ilmu pengobatan maupun ilmu
alam yang resmi telah menerima baik hasil penyelidikan tersebut, terutama
mengenai khasiat bahan-bahan tersebut sampai sekarang juga masih dipergunakan
dalam dunia kedokteran Indonesia.
Meskipun nenek moyang kita
pada zaman dahulu kala telah menggunakan tumbuh-tumbuhan tidak hanya untuk
bahan makanan dan bahan bakar saja, tetapi juga untuk bahan obat-obatan, namun
tak ada seorang pun hingga pertengahan abad ke XVI membuat riwayat ataupun dokumentasi
tentang obat-obatan.
I.2. Rumusan
Masalah
1. Apa yang
dimaksud Standarisasi
?
2. Apa sajakah Aspek parameter Standardisasi ?
3. Penetapan apa saja yang berkaitan dengan aspek penetapan non spesifik?
4. Bagaimana Uji klinik dan pra-klinik untuk
mengetahui mutu dari Obat Tradisional ?
BAB II
PEMBAHASAN
Obat
tradisional adalah obat yang berasal dari bahan baku alam yang dikeringkan yang
dibuat secara turun temurun yang biasanya dikemas dalam wadah yang sederhana
berbungkus plastik atau kemasan botol yang memiliki khasiat tertentu yang
diperoleh dari tradisi turun temurun (Ahmad Najib. 2008).
Obat
tradisional terbagi atas 3 bagian yaitu : (Ahmad Najib. 2008)
Jamu, contohnya jamu godog, jamu obat kuat lelaki, jamu untuk menggemukkan, dan lain sebagainya.Obat herbal standar, contohnya Antangin JRG dan Fitofarmaka.
Jamu, contohnya jamu godog, jamu obat kuat lelaki, jamu untuk menggemukkan, dan lain sebagainya.Obat herbal standar, contohnya Antangin JRG dan Fitofarmaka.
Jamu
sudah sejak zaman dulu masyarakat Indonesia mengenal dan mengetahui tanaman
yang berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan kesehatan
formal dengan obat-obat modernnya. Pengetahuan tentang tanaman obat ini
merupakan warisan budaya bangsa berdasarkan pengalaman, yang secara turun
temurun telah diwariskan oleh generasi terdahulu kepada generasi berikutnya
termasuk generasi saat ini. Pengobatan dan pendayagunaan obat tradisional
tersebut merupakan salah komponen program pelayanan kesehatan dasar, serta
merupakan suatu alternatif untuk memenuhi kesehatan dasar penduduk dibidang
kesehatan (Depkes RI. 1978).
Standarisasi adalah proses dalam menetapkan atau
merumuskan dan merevisi standar yang dilaksanakan secara tertib. Standar adalah sesuatu yang dibakukan dan disusun
berdasarkan konsesus semua pihak terkait dengan memperhatikan syarat-syarat
kesehatan, keamanan, keselamatan lingkungan, berdasarkan pengalaman,
perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang
sebesar-besarnya. (Dr. Satrijo. 1985).
Pemakaian
bagian-bagian tumbuh-tumbuhan untuk obat-obatan tidak hanya terdiri melulu dari
satu jenis daun, kulit, buah atau getah, tetapi kebiasaan selalu dicampuri atau
bergandengan dengan lain-lain. (Dr. Satrijo. 1985).
Upaya
mengobati berbagai macam penyakit dengan ramuan obat yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan yang diperoleh dari dalam hutan dan atau halaman-halaman,
sebenarnya telah berabad-abad lamanya dilakukan oleh lelihur kita, misalnya
terhadap penyakit :
1.
Muntah-muntah/mual, sebagai obat
digunakan: daun kemangi, jintan hitam, daun/minyak serei, rimpang cekur, buah
kapulogo, buah pala, kayu manis, daun inggu dan umbi bawang putih.
2.
Demam malaria, digunakan sebagai obat :
daun johar, daun jungrahab, daun kaki kuda, daun pepaya, daun gelinggang,batang
brotowali.
3.
Disentri/mejan, sebagai obat digunakan :
kikisan kayu cendana, rimpang kunyit, daun jambu biji. kencing batu,
sering-sering digunakan daun atpokat, daun keji / picah- beling. cholera untuk
obat digunakan rimpang lengkuas merah, rimpang lempoyang. (Sudarman M, Harsono
R. 1985)
Berdasarkan Undang-undang No. 23 tahun 1992 adalah bahan atau ramuan bahan berupa
bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik, atau campuran dari
bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman. Adapun beberapa jenis Obat Tradisional adalah
sebagai berikut :
1.
Jamu (Empirical
Based Herbal Medicine)
Jamu adalah obat tradisional yang
berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut. Jamu
disajikan secara tradisional dalam bentuk seduhan, pil, atau cairan. Umumnya,
obat tradisional ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur. Jamu
tidak memerlukan pembuktian ilmiah secara uji klinis, tetapi cukup dengan bukti
empiris. Selain adanya klaim khasiat yang dibuktikan secara empiris, jamu juga
harus memenuhi persyaratan keamanan dan standar mutu.
2.
Obat Herbal
Terstandar (Standarized Based Herbal Medicine)
Merupakan obat tradisional yang
disajikan dari hasil ekstraksi atau penyarian bahan alam, baik tanaman obat,
hewan, maupun mineral. Dalam proses pembuatannya, dibutuhkan peralatan yang
tidak sederhana dan lebih mahal dari jamu. Obat herbal terstandar umumnya
ditunjang oleh pembuktian ilmiah berupa penelitian praklinis. Penelitian ini
meliputi standarisasi kandungan senyawa berkhasiat dalam bahan penyusun,
standarisasi pembuatan ekstrak yang higienis, serta uji toksisitas akut maupun
kronis.
3.
Fitofarmaka (Clinical
Based Herbal Medicine)
Merupakan obat
tradisional yang dapat disejajarkan dengan obat modern. Proses pembuatannya
telah terstandar ditunjang oleh bukti ilmiah sampai uji klinis pada manusia.
Karena itu, dalam pembuatannya diperlukan peralatan berteknologi modern, tenaga
ahli, dan biaya yang tidak sedikit.
Secara
ringkas kesimpulan dari penjelasan di atas beserta logonya (logo biasanya
terletak di pembungkus, wadah, etiket, atau brosur Obat Tradisional tersebut)
masing-masing tabel di bawah ini adalah sebagai berikut :

Sediaan herbal di Indonesia harus memenuhi kualitas
pada Materia Medika Indonesia (MMI) dan Farmakope Herbal. Standardisasi ini
meliputi dua aspek, yaitu:
1.
Aspek parameter spesifik
Dilakukan
pada senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitas farmakologis yang
melibatkan analisa kualitatif dan kuantitatif senyawa aktif.
2.
Aspek parameter non spesifik
Meliputi
aspek kimia, mikrobiologi, dan fisik yang akan mempengaruhi keamanan konsumen
dan stabilitas misal kadar logam berat, aflatoksin, kadar air, dan lain-lain.
Salah satu tahap standarisasi
Yaitu uji penetapan parameter non spesifik yang meliputi
penetapan kadar air (moisture content), penetapan kadar Abu (ash value),
penetapan logam berat (heavy metal), penetapan residu pestisida (pesticide
residues), cemaran mikroorganisme (microbial contaminant), dan identifikasi
aflatoksin.
Beberapa aspek parameter non
spesifik Yaitu, penetapan kadar air (moisture content), penetapan kadar Abu
(ash value), penetapan logam berat (heavy metal), penetapan residu pestisida
(pesticide residues).cemaran mikroorganisme (microbial contaminant), dan identifikasi
aflatoksin
1. Penetapan kadar air
Salah satu jaminan kemurnian
dan kontaminasi adalah penetapan kadar air. Nilai kadar air yang tidak sesuai
dengan standar Akan dapat mempengaruhi kualitas herbal Yaitu Sebagai media
tumbuh mikroorganisme yang Baik. Pertumbuhan jamur ataupun bakteri dapat
menyebabkan terjadinya perubahan metabolit sekunder. Selain itu kadar air yang
tinggi dapat menyebabkan masih berlangsungnya reaksi enzimatis yang dapat
merubah metabolit sekunder di dalam tanaman tersebut. Perubahan metabolit
sekunder Akan sangat mempengaruhi kualitas herbal itu sendiri dalam hal
aktivitas farmakologinya.
Penetapan kadar air dapat
dilakukan dengan 3 metode tergantung pada senyawa kimia didalamnya,yakni
titrasi, gravimetri, dan destilasi. Umumnya kadar air ditetapkan dengan cara
destilasi apabila terdapat minyak astir di dalamnya. Metode penetapan kadar air
dapat di baca lebih lanjut dalam buku : monografi ekstrak tumbuhan obat
Indonesia
2. Penetapan kadar Abu
Dalam menentukan kadar Abu, bahan tanaman di bakar
dan residu Abu yang dihasilkan diukur Sebagai kadar Abu total. Kadar Abu total
menunjukkan jumlah senyawa anorganik, mineral internal dan eksternal. Kadar Abu
harus sesuai berdasarkan standar yang sudah ditetapkan di masing-masing ekstrak
bahan tanaman.
Dari Abu total yang dihasilkan
kita dapat menentukan kadar Abu tidak larut asam, dengan cara Abu total
dilarutkan dalam asam klorida dan di bakar. Sisa Abu pembakaran merupakan nilai Abu tidak larut asam. Kadar Abu tidak
larut asam menandakan kehadiran silikat yang terdapat didalam pasir
atau tanah. (AOAC, 2005)
3. Penetapan logam berat
Kontaminasi logam berat dapat
terjadi secara tidak sengaja ataupun sengaja untuk ditambahkan. Logam berat
yang berbahaya dan Ada di sediaan OT adalah merkuri, timbal, tembaga, kadmium,
dan arsen. (AOAC, 2005)
Cara penentuan logam berat
yang sederhana dapat ditemukan dalam pharmacopoeias dan
didasarkan pada reaksi warna menggunakan reagen spesifik Yaitu thiocetamide
atau diethyldithiocarbamate. Kehadiran logam berat diukur dengan membandingkan
menggunakan standar. (WHO, 1988)
Penetapan logam berat dapat
menggunakan instrument seperti Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS),
Inductively coupled plasma (ICP), dan Neutron Activation Analysis (NAA).
(Watson, 1999)
4. Penetapan residu pestisida
OT dapat mengandung residu
pestisida, yang terakumulasi melalui proses agricultural seperti penyemprotan,
treatment pada tanah Selama proses penanaman, dan penggunaan pestisida gas
Selama penyimpanan. Banyak pestisida mengandung klorin atau fosfat. Pengukuran
residu pestisida dapat dilakukan dengan menetapkan total organik klorin dan/
total organik fosfat apabila tercemar pestisida lebih dari satu (Kunle, et
al., 2012)
Penentuan pestisida tunggal
dapat dilakukan dengan metode kromatografi gas (Kunle, et al., 2012).
Tetapi apabila senyawa pestisida atau senyawa lain juga terdeteksi dalam
kromatogram suatu residu pestisida maka perlu dilakukan suatu perlakuan kimiawi
atau Fisika lain untuk menghilangkan atau mengurangi intervensi senyawa senyawa
tersebut sebelum dilakukan kuantitasi residu pestisida yang ingin ditentukan.
(BPOM, 2004)
Cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) terdiri atas :
1.
Proses produksi
2.
QC / pemeriksaan
mutu
3.
Personalia, meliputi
: fisik dan mental.
4.
Peralatan, terdiri
atas optimal (keamanan, sesuai dengan kapasitas produksi ukuran alat) dan
minimum (timbangan, lampu spiritus, literatur)
5.
Sanitasi dan
higiene; kebersihan harus terjaga
6.
Pengolahan dan
pengemasan.
7.
Pengawasan mutu.
8.
Inspeksi diri
9.
Dokumentasi
Sistem informasi, sistem ini gunanya untuk memperkecil resiko salah tafsir
dan keliru, yang meliputi
1.
Dokumentasi spesifikasi
- Dokumentasi
produksi induk
- Catatan
pengolahan bets
- Catatan
pengemasan bets
- Dokumentasi
pengawasan mutu
- Dokumen
penyimpanan dan distribusi
- Dokumen
pemeliharaan dan kebersihan peralatan
- Prosedur
dan catatan tentang inspeksi diri
- Pedoman
dan catatan tentang latihan CPOTB
- Kontrol
distribusi
- Syarat
standar.
Agar suatu produksi tidak mengalami
penurunan maka harus melakukan pengembangan. Aspek-aspek yang perlu
dikembangkan mencakup :
Bahan baku. Ini dapat dilakukan
dengan :
a. Pendekatan, yang terdiri atas :
1.
Bioaktif compound (senyawa aktif biologik) yang langsung berasal dari
tanaman asli dari alam/natural
2.
Peningkatan aktivitas biologik semisintetik.
3.
Prototipe bahan alam
4.
Kimia medisinal menyangkut obat moderen.
Obat moderen berasal
dari :
1.
Penemuan baru dari bahan alam
2.
Bahan alam darat (biota darat)
3.
Bahan alam laut (biota laut)
b. Screening, yang terdiri atas :
1. Etnofarmakologik, yaitu simplisia yang digunakan berdasarkan pengalaman
dari masyarakat.
2. Biologik, terbagi atas dua yaitu
efek farmakologik dan efek toksikologi.
3. Farmakodinamik
4. Toksisitas lanjut, meliputi sub
akut, kronis dan akut.
Formulasi menyangkut fitofarmaka Uji,
terdiri atas :
1.
Penentuan toksisitas dan khasiat dengan metode farmakodinamik
- Standarisasi
sederhana.
- Penentuan
produk terstandar
- Uji
klinik
Sebelum melakukan uji
klinik terlebih dahulu lakukan uji praklinik dengan menggunakan hewan coba. (Ahmad Najib. 2008)
Ketetapan penggunaan terdiri atas:
·
Kebenaran bahan.
Dalam hal kebenaran
bahan yang perlu diperhatikan adalah mengenai spesies yang tepat terhadap
khasiat yang diinginkan.
·
Ketepatan dosis
Harus memiliki dosis
yang tepat.
·
Ketepatan cara penggunaan
Dimana cara
penggunaannya harus tepat. Misalnya kunyit untuk nyeri haid biasanya
ditambahkan asam, contohnya kiranti. Jika tidak ditambahkan asam maka kurang
efektif. Maka diperlukan kombinasi.
·
Ketepatan indikasi
Dimana indikasinya harus tepat. Misalnya : Kecubung (Datura metle). Jika
diisap gunanya untuk bronkodilator tapi jika diminum daunnya maka akan
memabukkan.
·
Ketetapan telaah informasi
Dimana disini harus valid.
Tanpa penyalahgunaan Ketepatan pemilihan obatCari tanaman obat yang
benar-benar tepat dalam penyembuhan penyakit yang diinginkan (Ahmad Najib.
2008) Undang-undang tentang kesehatan obat tradisional ada pada UU no 23 tahun
1992 :Pasal 7 menyangkut pengertian. Pasal 10 menyangkut bahan baku (Ahmad
Najib. 2008).
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Obat tradisional adalah obat yang berasal dari bahan baku alam yang
dikeringkan yang dibuat secara turun temurun yang biasanya dikemas dalam wadah
yang sederhana berbungkus plastik atau kemasan botol yang memiliki khasiat
tertentu yang diperoleh dari tradisi turun temurun. Obat tradisional meliputi :
jamu, obat herbal standar dan fitofarmaka.
Hal penting yang perlu diketahui pada obat tradisional adalah bahan baku
dalam hal ini adalah simplisia yang merupakan bahan alam kering baik yang
berasal dari nabati, hewani maupun mineral; cara pembuatannya, kemasan,
khasiat, dan regulasi.
Simplisia adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami
perubahan proses apapun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang
telah dikeringkan.
Simplisia ada yang tumbuh secara liar dan ada simplisia yang dibudidayakan.
Dimana keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan simplisia liar
adalah merupakan kekurangan dari simplisia budidaya.
Pengolahan bahan baku obat tradisional terdiri atas : pengumpulan/panen,
sortasi basah, pencucian, pengeringan, sortasi kering, perajangan, pengepakan,
dan pencegahan mikroorganisme.
Cara pembuatan obat tradisional yang baik meliputi : personil, bangunan,
peralatan, sanitasi dan hygiene, penyiapan bahan baku, pengolahan dan
pengemasan, pengawasan mutu, inspeksi diri atau audit mutu, dokumentasi, dan
penanganan terhadap hasil pengamatan produk jadi peredaran.
Aspek-aspek yang perlu dikembangkan oleh suatu produksi agar tidak menurun
yaitu dari aspek bahan baku, ini dibagi atas dua yaitu dengan melakukan
pendekatan dan screening; dari aspek formulasi, dan dengan melakukan uji
(misalnya uji klinik, praklinik, dan lain sebagainya).
Ketetapan penggunaan terbagi atas : kebenaran bahan, ketepatan dosis,
ketepatan cara penggunaan, ketepatan indikasi, ketepatan telaah informasi,
tanpa penyalahgunaan dan ketepatan pemilihan obat
DAFTAR PUSTAKA
AOAC, 2005, Official
Methods of Analysis of AOAC International, 18th Ed, AOAC International,
Geithersburg, MD
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Materi Medika
Indonesia. Jilid II.Jakarta
Dr. A.P. Dharma. 1985. Tanaman Obat Tradisional Indonesia. PN Balai
Pustaka.
Drs. Gunawan, D dan Dra. Mulyani, S. 2004. Ilmu Obat Alam
(Farmakognosi Jilid I). Penebar Swadaya. Jakarta
Dr. Satrijo. 1985. Apotik Hidup (Obat Asli Indonesia). Penerbit dan T.B
Bahagia. Pekalongan.
Kartasapoetra, G. 1993. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Rineka
Cipta. Jakarta
M, Sudarman dan R, Harsono. 1985. Cabe Puyang Warisan Nenek
Moyang. PN Balai Pustaka.
Jakarta.
Najib, A. 2008 Bahan Ajar. UMI. Makassar
Steenis, van C.G.G.J. 1988. Flora. Untuk Sekolah di Indonesia. PT. Prada
Pramita. Jakarta.
..
..
Langganan:
Komentar (Atom)
