Perbandingan Efek Diuretika Serta Kadar Natrium
Dan Kalium Darah Antara Pemberian Ekstrak Etanol Daun Tempuyung (Sonchus
Arvensis Linn) Dengan Furosemida
Erlina Rustam Imelda FB dan Andani EP
Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas
Diterima tanggal : 17 Juli 2006
disetujui : 05 September 2006
Abstract
A study on comparative diuretic effect and the sodium
and potassium blood levels between the
administration the aethanolic extract of tempuyung leaves (Sonchus arvensis Linn) and furosemide
on 7 groups of male Wistar rats has been done. Three groups were given
various doses of the aethanolic extract of tempuyung leaves (100; 300 and 1000
mg/kgBW respectively), three other groups were given furosemide with the doses
of 0.36; 0.72 and 1.14 mg/kgBW respectively and one control group. Results
showed that tempuyung extract with doses of 300 mg/kgBW had highest diuretic
effect (6.85 mL) in comparison to furosemide 0.72 mg/kg BW (6.575 mL) and
control (5,075 mL). The lowest natrium and potassium blood levels of 7.21 and 4.58 ppm respectively were found
after administration of 300 mg/kg BW extract compared to 7.60 and 4.29 ppm
respectively after the administration of 0.72 mg/kgBW furosemide (these of
control were 8.45 ppm and 5.01 ppm for sodium and potassium level
respectively). In summary the extract of tempuyung leave at doses 300 mg/kgBW
showed a stronger diuretic effect than furosemide at doses 0.72 mg/kgBW.
Keywords
: Sonchus Arvensi,
diuretik
Pendahuluan
Indonesia memiliki keanekaragaman tanaman obat, dimana
lebih dari 30.000 spesies tanaman dari sekitar 40.000 spesies di dunia, dan
baru 800-1200 spesies di antaranya diketahui berkhasiat sebagai obat atau
digunakan sebagai bahan obat. Menurut Depkes RI, definisi tanaman obat Indonesia sebagaimana tercantum dalam SK Menkes
No. 149/ SK/ Menkes/ IV/ 1978, yaitu tanaman atau bagian tanaman yang digunakan
sebagai bahan obat tradisional atau jamu; tanaman atau bagian tanaman yang
digunakan sebagai formula bahan baku
obat; atau tanaman atau bagian tanaman yang diekstraksikan, dan ekstraksi
tersebut digunakan sebagai obat (Siswanto, 1997; Sutarjadi,1992).
Beberapa tanaman obat dapat digunakan sebagai obat
diuretika diantaranya alang-alang, tempuyung, kumis kucing, keji beling,
meniran, daun sendok dan lain-lain.dimana penelitian dan pengembangan tumbuhan
obat yang berkhasiat diuretika ini merupakan salah satu prioritas Departemen
Kesehatan Republik Indonesia didalam penggalian, pelestarian, pengembangan dan
pemanfaatan tumbuhan obat Indonesia (DepKes RI, 1977; DepKes RI, 1992; Hembing,
1992; Lukmanto, 1991; Van Steenis, 1981).
Dari sekian banyak tanaman obat yang berkhasiat
sebagai diuretika tempuyung merupakan salah satu yang popular bahkan juga telah
diolah dalam skala industri. Pada tahun 1980-an di daerah Cibinong, dijual teh
cabining yang terbuat dari serbuk daun kering tempuyung sebagai hasil temuan
tim yang dikoordinir oleh Soekarto,namun sampai sekarang belum juga tuntas
sebagai obat fitofarmaka. .
Furosemida merupakan kelompok diuretika
kuat yang telah teruji secara medis ilmiah. Sebagai diuretika kuat, furosemida
merupakan obat yang paling sering digunakan di Indonesia , yaitu sekitar 60%
dibandingkan dengan diuretika kuat yang lain. Hal ini terjadi karena mula
kerja, waktu paruh dan waktu kerja relatif singkat, sehingga efek diuretikanya
cepat timbul dan sangat cocok digunakan untuk keadaan akut, namun sangat
disayangkan, pemakaian furosemida dapat menimbulkan efek samping gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit, terutama ion Natrium dan Kalium. Kedua ion
ini banyak yang dieksresikan, sehingga bisa menimbulkan hiponatrinemia dan
hipokalemia (Agoes, 1992; Ganiswara S.G,1995; Mutschler E,1991).
Oleh karena adanya efek samping berupa
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang ditimbulkan furosemida,
penulis tertarik untuk meneliti tumbuhan obat yang kemungkinan berefek sebagai diuretika dengan menggunakan ekstrak etanol daun
tempuyung serta membandingkannya dengan furosemida.
Metode Penelitian
Rancangan
Penelitian
Rancangan penelitian
yang dipakai adalah penelitian eksperimental laboratorium.
Populasi, sampel, besar sampel dan teknik
pengambilan sampel
Populasi adalah tikus jputih galur wistar sehat,umur ± 4 bulan, berat 180-220 gram.
Sampel adalah 28 ekor tikus putih galur wistar
yang diambil secara acak ( simple
random sampling) dan dibagi menjadi 7 kelompok:
|
Kelompok I (KI)
|
Kontrol
|
|
Kelompok II (KII)
|
Dosis
ekstrak 100 mg/kgBB
|
|
Kelompok III (KIII)
|
Dosis
ekstrak 300 mg/kgBB
|
|
Kelompok IV (KIV)
|
Dosis ekstrak1000 mg/kgBB
|
|
Kelompok V (KV)
|
Dosis Furosemid 0,36 mg/kgBB
|
|
Kelompok VI (K VI)
|
Dosis Furosemid 0,72 mg/kgBB
|
|
Kelompok VII(K VII)
|
Dosis Furosemida 1,14 mg/kg
BB
|
Bahan
dan Hewan percobaan
1. Ekstrak etanol daun tempuyung.
2. Tablet furosemid 40 mg, aquades steril,
makanan tikus, NaCl 0,9%, Na CMC 1%, Etanol 70%, dan air hangat.
3. Tikus putih galur wistar, umur 4 bulan,
berat 180-220 gram, sebanyak 28 ekor.
Alat Penelitian
Alat penelitian yang digunakan adalah
kandang tikus, tempat makan dan minum tikus, timbangan, rotary evaporator,
kapas, spuit oral, minor set, seperangkat alat destilasi, cawan petri, labu
erlemeyer, labu ukur, beker gelas, gelas ukur, jarum oral, spatel, alu,
lumpang, sudip, seperangkat alat pengujian diuresis beserta kandang metabolic.
Pelaksanaan Penelitian
Pengumpulan Tumbuhan Obat dan Pembuatan Simplisia
Bahan tumbuhan obat yaitu daun tempuyung sebanyak
2 kilogram didapat dari lingkungan sekitar kampus Universitas Andalas. Daun ini
dicuci bersih dengan air mengalir kemudian dikeringkan di udara terbuka dan dihaluskan
menjadi serbuk (dirajang) yang disebut simplisia (Djamal, 1990).
Identifikasi Tumbuhan Obat
Sampel tumbuhan obat yaitu tumbuhan
tempuyung diidentifikasi di Herbarium
ANDA jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas Padang dengan nomor koleksi H-01
ANDA
Ekstraksi
Simplisia Secara maserasi dengan Etanol 70 %
Untuk ekstraksi sampel digunakan metode
maserasi. Sampel yang telah dirajang tipis dimaserasi dengan etanol 70% sampai
terendam. Biarkan di tempat gelap selama 5 hari dengan sekali-kali diaduk.
Dipisahkan hasil maserasi dengan penyaringan menggunakan corong yang lubangnya
ditutup dengan kapas. Hasil saringan disimpan dalam botol berwarna gelap
terhindar dari cahaya. Ulangi maserasi ini selama 3 kali, sehingga didapatkan
hasil maserasi yang agak bening. Hasil maserasi dipekatkan dengan rotary
evaporator sehingga didapat ekstrak etanol daun tempuyung.
Penentuan
Dosis
Dosis yang diberikan pada hewan percobaan
untuk ekstrak etanol daun tempuyung dibuat variasi dosis yaitu dengan dosis
100, 300 dan 1000 mg/kgBB. Untuk furosemida dipakai variasi dosis 0,36,
0,72,dan 1,14 mg/kgBB.
Persiapan
Hewan Percobaan
Pada penelitian ini digunakan tikus
putih sebanyak 28 ekor yang terlebih
dahulu diadaptasikan selama 7 hari. Tikus dikelompokkan secara acak dalam 7
kelompok percobaan, tiap kelompok terdiri dari 4 ekor tikus. Sebelum pengujian
dilakukan tikus dipuasakan makan selama 16 jam, minum tetap diberikan (DepKes
RI, 1995).
Pengujian efek diuretika pada
hewan coba
Tikus sebanyak 28 ekor yang dibagi dalam 7 kelompok
(setiap 1 kelompok terdapat 4 ekor). Masing-masing kelompok diberikan air
hangat secara oral sebanyak 10 ml/kgBB. 1 kelompok sebagai kontrol tanpa
diberikan perlakuan. 3 kelompok diberikan suspensi secara oral dari ekstrak
etanol daun tempuyung dengan dosis 100, 300, 1000 mg/kgBB. 3 kelompok diberikan
furosemid dengan dosis 0,36, 0,72 dan 1,14 mg/kgBB. Kemudian tikus ditempatkan
dalam kandang metabolik, urinnya ditampung dengan wadah yang mempunyai skala
pengukuran. Volume urin dicatat setiap 30 menit selama 4 jam.
Penentuan kadar Kalium dan Natrium darah (Khopkar, 1990)
Pengukuran jumlah natrium di dalam darah dilakukan
dengan menggunakan alat fotometer nyala. Sampel darah tikus diambil melalui
arteri karotid (pada leher). Sampel darah ini
(1 ml) dimasukkan ke dalam tiube ependorf, kemudian sentrifus dengan
alat (Gallenkamp centrifuge) dengan kecepan 1700 rpm selama 5 menit. Kemudian,
darah di dalam tube ependorf akan terpisah menjadi dua bahagian, iaitu bahagian
sel darah dan bahagian plasma (bening). Bahagian plasma dipipetkan ke dalam
tabung ependorf yang lain dan sampel ini siap untuk penentuan kadar Kalium dan
Natrium darah.
Sebelum dilakukan pengukuran natrium dan kalium darah,
terlebih dahulu alat fotometer nyala dikalibrasi dengan air suling sehingga
bacaan alat menunjukkan angka nol (0.0). Kemudian kalibrasi lagi dengan larutan
standar natrium (MultiCal = 140 mmol NaCl di dalam 1000 ml air suling) yang
sudah encerkan pada 1:200 sehingga
bacaan alat menunjukkan angka 140. Kalibrasi alat ini diulangi beberapa kali
sehingga bacaan "blank" menunjukkan angka 0.0 (± 0.2) dan bacaan
standar 140 ± 1%. Serum darah tikus diencerkan dengan air suling pada kadar
yang sama dengan larutan standar yaitu 1:200 sebelum analisa dilakukan. Angka
yang terbaca pada alat saat pengujian adalah kadar natrium dalam mmol/1000ml
atau mmol/L.
Perlakuan yang sama juga
dilakukan untuk penentuan kadar Kalium dengan menggunakan larutan standar KCl.
Penghitungan ini dilakukan sebelum diberikan kedua bahan obat dan sesudahnya.guna
dilakukan sebelum diberikan bahan obat adalah sebagai parameter awal dari kadar
natrium dan kalium darah pada tikus.
Pengolahan Data
Data hasil pengukuran volume
urin tikus serta kadar Natrium dan kalium darah yang didapatkan, diolah secara
statistik dengan menggunakan Statistical
Product and Service Solution (SPSS) 11.0 dalam rancangan acak lengkap. Data
numerik lebih dari dua variabel diuji dengan one way Anova, serta dilanjutkan dengan analisa Dunnett yaitu uji beda rerata perlakuan
dengan kontrol (Bolton S,1990; Hanafiah K.A, 2005).
Hasil dan Pembahasan
Hasil Pengukuran Jumlah Urin
Jumlah urin yang dihitung
setelah perlakuan antara pemberian ekstrak etanol daun tempuyung dengan
furosemida sebagai manifestasi dari efek diuretika memberikan hasil seperti
pada tabel 1.
Dari tabel 1 didapatkan bahwa
rata-rata jumlah urin terbanyak adalah pada ekstrak etanol tempuyung dengan
dosis 300 mg/kgBB yaitu 6.850 ml. Untuk pemberian furosemida dosis 0.72 mg/kgBB
didapat rata-rata jumlah urin yaitu 6.575 ml. Rata-rata jumlah urin yang
terhitung pada kedua bahan obat adalah di atas rata-rata jumlah urin kontrol
yaitu > 5.075 ml.
Tabel
1. Rata-rata
jumlah urin pada 4 jam setelah pemberian ekstrak tempuyung dan furosemida dalam berbagai dosis.
|
Perlakuan
|
Rata-rata jumlah urin 4 jam
setelah perlakuan
|
|
Kontrol
|
5.075 ml
|
|
Ekstrak dosis 100 mg/kg BB
|
5.825 ml
|
|
Ekstrak dosis 300 mg/kgBB
|
6.850 ml
|
|
Ekstrak dosis 1000 mg/kgBB
|
5.975 ml
|
|
Furosemida dosis 0.36 mg/kgBB
|
5.850 ml
|
|
Furosemida dosis 0.72 mg/kg BB
|
6.575 ml
|
|
Furosemida dosis 1.14 mg/kg BB
|
6.275 ml
|
Setelah pengujian secara
statistik (ANOVA), dan dilanjutkan dengan analisa Tukey HSD apabila didapatkan perbedaan yang signifikan, dengan
hasil pada derajat kepercayaan 95%.
terdapat perbedaan rata-rata jumlah urin antara kontrol dengan semua kelompok
perlakuaan yang signifikan dengan analisa varian, yaitu 0,000 < 0,05.
Setelah
diuji dengan Tukey HSD, disimpulkan
bahwa terdapat perbedaan rata-rata jumlah urin yang signifikan pada kelompok furosemida dan ekstrak etanol
tempuyung dengan kontrol sebagai pembanding. Dan didapatkan bahwa antara
ekstrak etanol tempuyung dalam dosis 300 mg/kgBB dengan furosemida dosis
0,72mg/kg BB tidak terdapat perbedaan rata-rata jumlah urin yang signifikan .
Furosemida dosis 40 mg merupakan dosis terapi
setelah dikonversikan ke tikus menjadi 0,72 mg/kgBB yang sudah terbukti sebelumnya secara uji klinis memberikan efek diuretika yang optimal dengan
manifestasi jumlah urin dan ternyata pada penelitian ini tidak terdapat
perbedaan yang signifikan dalam hal ekskresi urin antara pemberian furosemida dosis 0,72 mg/kgBB
dengan ekstrak etanol tempuyung pada dosis yaitu 300 mg/kgBB da100 mg/kgBB .
Hal ini menunjukan bahwa efek diuretika yang timbul akibat pemberian ekstrak
etanol akar alang-alang pada ketiga dosis hampir sama dengan furosemida dosis
0,72 mg/kgBB.
Furosemida yang dikenal sebagai diuretika kuat
yang memiliki mula kerja dan lama kerjanya cepat terlihat jelas dalam
penelitian ini, sedangkan mula kerja ekstrak etanol tempuyung ketiga dosis
lebih lambat dibandingkan furosemida dosis 0,72 mg/kgBB (Ganiswara S.G,1995,
Tjay, 1986).
Hasil
Penghitungan Kadar Natrium Darah
Kadar natrium darah dihitung sebelum dan setelah perlakuan antara
pemberian ekstrak etanol tempuyung dengan furosemida sebagai manifestasi dari
efek diuretika memberikan hasil sebagai berikut:
Tabel 2. Rata-rata kadar
natrium darah sebelum dan sesudah perlakuan antara pemberian ekstrak tempuyung
dengan furosemida dalam berbagai dosis
|
Perlakuan
|
Purata
kadar Na darah (ppm)
|
Penurunan
kadar Na darah (ppm)
|
|
|
sebelum
|
sesudah
|
||
|
Kontrol
|
8.58
|
8.45
|
0.13
|
|
Ekstrak dosis 100 mg/kg BB
|
8.78
|
8.15
|
0.63
|
|
Ekstrak dosis 300 mg/kgBB
|
8.68
|
7.21
|
1.47
|
|
Ekstrak dosis 1000 mg/kgBB
|
8.87
|
8.08
|
0.79
|
|
Furosemida dosis 0.36 mg/kgBB
|
8.74
|
7.60
|
1.14
|
|
Furosemida dosis 0.72 mg/kg BB
|
8.80
|
7.60
|
1.2
|
|
Furosemida dosis 1.14 mg/kg BB
|
8.76
|
7.93
|
0.83
|
Dari tabel 2 didapatkan bahwa
setelah diberi perlakuan,maka terjadi penurunan rata-rata kadar natrium darah
untuk kedua bahan obat,yaitu di atas penurunan rata-rata pada kopntrol
>0,13. Rata-rata kadar natrium darah paling rendah setelah diberikan
perlakuan adalah pada ekstrak etanol tempuyung dengan dosis 300 mg/kgBB yaitu
7,21 ppm dengan penurunan rata-rata 1,47 ppm . Untuk pemberian furosemida
adalah pada dosis 0,72 mg/kgBB yaitu
7,6 ppm dengan penurunan rata-rata1,2 ppm.
Dari
hasil uji lanjut diketaui bahwa pada derajat kepercayaan 95% pada kedua bahan
obat ini memberikan perbedaan yang yang signifikan antar kadar natrium darah
sebelum dan sesudah diberikan perlakuan dengan ekstrak etanol tempuyung dan
furosemida dalam berbagai dosis.
Hasil
Penghitungan Kadar kalium Darah
Penghitungan kadar kalium darah dilakukan sebelum
dan setelah perlakuan antara pemberian ekstrak tempuyung dengan furosemida
sebagai manifestasi dari efek diuretika memberikan hasil sebagai berikut:
Tabel 3. Rata-rata kadar
kalium darah sebelum dan setelah perlakuan
antara pemberian ekstrak tempuyung dengan furosemida dalam berbagai dosis.
|
Perlakuan
|
Purata
kadar
K
darah (ppm)
|
Penurunan
kadar
K
darah (ppm)
|
|
|
sebelum
|
sesudah
|
||
|
Kontrol
|
5.06
|
5.01
|
0.05
|
|
Ekstrak dosis 100 mg/kg BB
|
5.51
|
5.36
|
0.15
|
|
Ekstrak dosis 300 mg/kgBB
|
5.22
|
4.58
|
0.64
|
|
Ekstrak dosis 1000 mg/kgBB
|
5.35
|
4.88
|
0.47
|
|
Furosemida dosis 0.36 mg/kgBB
|
5.35
|
4.90
|
0.45
|
|
Furosemida dosis 0.72 mg/kg BB
|
5.13
|
4.29
|
0.84
|
|
Furosemida dosis 1.14 mg/kg BB
|
5.08
|
4.71
|
0.37
|
Dari tabel 3 didapatkan bahwa
setelah diberi perlakuan,maka terjadi penurunan rata-rata kadar kalium darah
untuk kedua bahan obat yaitu diatas penurunan rata-rata pada kontrol > 0,05.
Rata-rata kadar kalium darah paling rendah setelah diberikan perlakuan adalah furosemida dosis 0,72 mg/kg BB yaitu
4,29 ppm dengan penurunan rata-rata 0,84 ppm. Untuk ekstrak etanol tempuyung
dengan dosis 300 mg/kgBB yaitu 4,58 ppm dengan penurunan rata-rata 0,64 ppm.
Setelah didapatkan hasil, maka dilakukan uji
statistik berupa analisa Paired Samples t -test dengan hasil sebagai berikut: bahwa pada derajat kepercayaan 95% pada
kedua bahan obat ini memberikan perbedaan yang signifikan antara rata-
rata kadar kalium darah sebelum dan sesudah diberikan perlakuan ekstrak
tempuyung dan furosemida dalam berbagai dosis.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
ekstrak tempuyung dosis 300 mg/kgBB mempunyai daya diuresis tertinggi yaitu
6.850 ml sedangkan furosemida 0.72 mg/kg BB 6.575 ml dengan kontrol 5,075 ml. Dari penghitungan kadar natrium dan kalium
darah didapatkan kadar natrium dan kalium terendah pada pemberian ekstrak 300
mg/kgBB yaitu sebanyak 7.21 ppm dan 4.58 ppm, sedangkan kadar natrium dan
kalium darah terendah pada pemberian furosemida dosis 0.72 mg/kgBB yaitu
sebanyak 7.60 ppm dan 4.29 ppm dengan kontrol natrium 8.45 ppm dan kalium 5.01
ppm. Ekstrak tempuyung dosis 300 mg/kg BB mempunyai efek diuretika yang sedikit
lebih kuat berbanding furosemida dosis 0.72 mg/kg BB
Saran
1. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai
mekanisme kerja dan senyawa utama dari ekstrak etanol tempuyung yang
menyebabkan diuresis dan diduga memiliki efek diuretika yang lebih baik dari
furosemida.
2. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai uji
praklinik dan uji klinik,sehingga tanaman ini dapat direkomendasikan untuk
dijadikan obat fitofarmaka.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes A, 1992. Catatan Kuliah Farmakologi. Bagian I, Jakarta : EGC, hlm 124.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia , 1977. Materia Medika Indonesia.
Jilid I, Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, hlm 100.
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV, Jakarta: Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan, hlm 400,401.
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 1992. Peraturan Menteri Kesehatan RI no.76/Menkes/Per/IX/1992
tentang pedoman fitofarmaka. Departemen Kesehatan RI.
Djamal R, 1990. Prinsip-prinsip
Dasar Bekerja daalm Kimia Bahan Alam. Padang:
Universitas Andalas, hlm 32,36-40,58.
Ganiswara S.G, 1995. Farmakologi
dan Terapi, Edisi IV, Jakarta: bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Hlm 389-392.
Hanafiah K.A, 2005.
Rancangan Percobaan Toeri dan Aplikasi. Ed revisi ke 10, Jakarta: Rajagrafindo Persada,
hlm 74-78
Hembing H.M,1992. Tanaman
berkhasiat obat di Indonesia. Jilid II, Jakarta: Pustaka Kartini
Khopkar S,M,1990. Konsep
Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UIPress. Hlm 275-287
Lukmanto Henny,1991. IPI
Informasi akurat Produk Farmasi di Indonesia. Jakarta:EGC Penerbit Buku
Kedokteran, hlm 95.
Mutschler E,1991.
Dinamika Obat. Edisi V, Bandung: Penerbit ITB, hlm 565-568, 571-573.
Siswanto Y.W,1997.
Penanganan Hasil Panen Tanaman Obat Komersial. Jakarta: Trubus Agriwidya.
Sutarjadi. 1992. Tumbuhan
Indonesia sebagai sumber Obat, Kosmetik dan Jamu. Bogor: Prosiding, Seminar dan Lokakrya Nasional Enbotani.
Tjay Y.H, Rahardja
Kirana, 1986. Obat-obat penting khasiat penggunaan dan efek samping. Edisi 4,
Jakarta:Departemen Kesehatan RI, hlm 372,374,375.
Van Steenis C.G.G.J,
1981. Flora. Cetakan ke-3, Jakarta Pusat: Prandya Paramita, hlm 430
siapha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar